Home / Feature / Mengapa Riba Dilarang ?

Mengapa Riba Dilarang ?

Riba menurut bahasa adalah tambahan (azziyadah) atau bisa juga diartikan sebagai keuntungan, namun dalam konteks ini adalah keuntungan yang tidak diperbolehkan. Menurut istilah ilmu fikih, riba merupakan tambahan khusus yang dimiliki salah satu pihak yang terlibat tanpa adanya imbalan tertentu. Sedangkan menurut Ibnu Al Arabi dalam kitabnya Ahkam Al-Qur’an menjelaskan bahwa riba adalah setiap keuntungan yang diperoleh tanpa adanya transaksi pengganti. Transaksi riba sering dijumpai dalam transaksi hutang piutang dimana kreditor meminta tambahan dari modal asal kepada debitor. Namun tidak hanya pada transaksi hutang piutang saja terjadi praktik riba, dalam jual beli pun sering terjadi praktik riba, seperti menukar barang yang tidak sejenis, melebihkan atau mengurangkan timbangan atau dalam takaran. Riba identik dengan bunga bank, hal tersebut karena bunga dan riba secara substansi memiliki arti yang sama yaitu sama-sama ada penambahan tanpa adanya transaksi bisnis riil, maka hukumnya sama yaitu haram.

Islam melarang keras adanya praktik riba, larangan riba yang terdapat dalam Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturunkan dalam empat tahap. Tahap pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT. hal ini disebutkan dalam Al Qur’an surah Ar-Rum ayat 39. Tahap kedua, riba digambarkan sebagai sesuatu yang buruk. Allah Ta’ala mengancam memberi balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba. Disebutkan dalam surah An-Nisa’ ayat 160-161. Tahap ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Para ahli tafsir berpendapat, bahwa pengambilan bunga dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktekkan pada masa tersebut. Hal ini disebutkan dalam dalam surah Ali Imran ayat 130. Tahap terakhir, Allah Ta’ala denagn jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Ini adalah ayat terakhir yang diturunkan menyangkut riba. Disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 278-279.

Ditinjau dari segi ekonomi, menurut Prof. A. M. Sadeq sebab diharamkannya riba adalah sebagai berikut :
Pertama, sistem ekonomi ribawi telah menimbulkan ketidakadilan dalam masyarakat terutama bagi para pemberi modal (bank) yang pasti menerima keuntungan tanpa mau tahu apakah para peminjam dana tersebut memperoleh keuntungan atau tidak. Jika para peminjam dana mendapatkan keuntungan dalam bisnisnya, maka persoalan ketidakadilan mungkin tidak akan muncul. Kedua, sistem ekonomi ribawi juga merupakan penyebab utama berlakunya ketidakseimbangan antara pemodal dengan peminjam. Keuntungan besar yang diperoleh para peminjam yang biasanya terdiri dari golongan industri raksasa hanya diharuskan membayar pinjaman modal mereka plus bunga pinjaman dalam jumlah yang relatif kecil dibandingkan dengan milyaran keuntungan yang mereka peroleh. Ketiga, sistem ekonomi ribawi akan menghambat investasi karena semakin tingginya tingkat bunga dalam masyarakat, maka semakin kecil kecenderungan masyarakat untuk berinvestasi. Masyarakat akan lebih cenderung untuk menyimpan uangnya di bank-bank karena keuntungan yang lebih besar diperolehi akibat tingginya tingkat bunga. Keempat, bunga dianggap sebagai tambahan biaya produksi bagi para businessman yang menggunakan modal pinjaman. Biaya produksi yang tinggi tentu akan memaksa perusahaan untuk menjual produknya dengan harga yang lebih tinggi pula. Melambungnya tingkat harga, pada gilirannya, akan mengundang terjadinya inflasi akibat semakin lemahnya daya beli konsumen

Semua dampak negatif sistem ekonomi ribawi ini secara gradual, tapi pasti, akan mengkeroposkan sendi-sendi ekonomi umat. Krisis ekonomi tentunya tidak terlepas dari pengadopsian sistem ekonomi ribawi seperti disebutkan diatas. Penjelasan diatas sudah jelas bahwa riba akan mendatangkan kemudharatan bagi manusia, baik individu maupun masyarakat. Allah Ta’ala tidak mungkin mengharamkan sesuatu jika itu baik dan bermanfaat.(Anissatul Istianah/STEI SEBI)

Komentar