Home / Oase / Hijrah Menuju Generasi Rabbani

Hijrah Menuju Generasi Rabbani

Kehidupan manusia di dunia ini senantiasa berubah-ubah dan tidak konstant, dimana seringkali ia mengalami kemudahan dan kesulitan, kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, keselamatan dan berbagai tribulasi dan seterusnya. Dan yang menarik perhatian adalah pengalaman manusia terhadap kondisi yang berubah-ubah itu sangat beragam dari satu orang ke orang yang lain tergantung dominasi Rabbaniyah atau materialisme pada dirinya. Barangsiapa yang aspek Rabbaniyahnya mengalahkan aspek materialismenya, maka ia akan menyikapi berbagai keadaan dengan sikap yang selaras dan positif. Berbeda dengan seseorang yang aspek materialismenya mengalahkan aspek Rabbaniyahnya, dimana ia akan menyikapi berbagai keadaan tersebut dengan sikap-sikap yang kontradiktif dan negatif.

Kita mendapati seorang yang Rabbani menyikapi kekayaan dengan rasa syukur karena menyadari hal itu adalah anugerah Allah dan Dialah Pemberi nikmat dan Pemberi anugerah yang hakiki. Menyadari bahwa ia harus menunaikan hak Allah dalam harta ini, memilih yang halal dan menjauhi diri dari yang haram. Serta senantiasa memiliki kesadaranuntuk selalu berhati-hati jangan sampai harta ini menjadi jalan menghantarkannya kepada fitnah, penyimpangan, dan keterjerumusannya ke dalam siksa neraka. Jika seorang yang Rabbani mengalami kefakiran, maka kita akan mendapatkannya bersabar dan ridha serta tidak mengumpat, karena ia menyadari bahwa dunia bukanlah kampung kenikmatan dan mengingat kehidupan Rasulullah SAW sebagai hamba yang paling mulia di sisi Allah SWT, bagaimana keseharian beliau yang sangat sederhana.

Demikianlah, kita melihat seorang mukmin menghadapi kebaikan dan keburukan dengan sikap yang selaras dan positif, karena ia menyadari bahwa Allah lah yang telah menakdirkan kebaikan dan keburukan ini. Dan kadang ada seseorang yang berhasil lulus dari ujian kemiskinan dan kesusahan, tetapi ketika menghadapi ujian kebaikan yang berupa dunia dan segenap kenikmatan yang menggiurkannya, ia ternyata terfitnah dan mengalami kegagalan dalam menjalani ujian ini.

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.”(QS.Al-Anbiya’: 34-35)

Allah Swt. berfirman: Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). (Al-Anbiya: 34) Yaitu di dunia ini, bahkan: Semua yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman: 26-27) Sebagian ulama menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa Khidir a.s. telah wafat dan tidak hidup sampai sekarang, karena dia adalah seorang manusia, baik ia sebagai seorang wali, atau seorang nabi atau seorang rasul, sebab Allah Swt. telah berfirman: Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). (Al-Anbiya: 34) Adapun firman Allah Swt.: maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? (Al-Anbiya: 34) Yakni mereka berharap dapat hidup sesudah kamu. Tidak akan terjadi hal seperti ini, melainkan semuanya pasti mati. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Al-Anbiya: 35)

Firman Allah Swt: Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). (Al-Anbiya: 35) Artinya, Kami benar-benar akan menguji kalian —adakalanya dengan musibah dan adakalanya dengan nikmat— agar Kami dapat melihat siapakah yang bersyukur dan siapakah yang ingkar, siapakah yang bersabar serta siapakah yang berputus asa (di antara kalian). Seperti yang telah diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami akan menguji kalian. (Al-Anbiya: 35) Yakni memberikan cobaan kepada kalian. dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). (Al-Anbiya: 35) Yaitu dengan kesengsaraan dan kemakmuran, dengan sehat dan sakit, dengan kaya dan miskin, dengan halal dan haram, dengan taat dan durhaka, serta dengan petunjuk dan kesesatan.

Firman Allah Swt.:Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan. (Al-Anbiya: 35)Maka Kami akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan amal perbuatan kalian. Wallahu a’lam bishowab. (Muhammad Malik Sayyid Ahmad/STEI SEBI)

Sumber : Fiqh dakwah jilid 2 & Ringkasan tafsir Ibnu Katsir jilid 3

Komentar