Home / Feature / Keutamaan Menyambut Bulan Ramadhan

Keutamaan Menyambut Bulan Ramadhan

Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang.

Bulan yang selalu dinantikan oleh kaum Muslimin adalah bulan suci Ramadhan. Bagaimana tidak, pada bulan ini pahala dilipat gandakan, pintu surga di buka selebar lebarnya, pintu neraka di tutup serapat rapatnya, dan setan pun di belenggu. Sehingga bulan Ramadhan menjadi sebuah moment berharga bagi kita untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya.

Selain itu, juga menjadi moment untuk bertaubat dari segala perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Sungguh merugi orang yang melewati bulan Ramadhan tanpa mendapatkan apa-apa. Rasulullah SAW bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

Bulan Ramadhan yang Allah utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam. Sungguh Allah memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi manusia yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah SAW. Balasan kebaikan atau keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Hana Nurul Jannah

Komentar