Home / Oase / Mengukur Keimanan Perempuan Dari Hijabnya

Mengukur Keimanan Perempuan Dari Hijabnya

Ayat tentang perubahan pada perempuan dibuka dengan kalimat iban artinya mari kita lihat ukuran keimanan perempuan dan bisa di ukur pada keluarga dirumah.

Turunlah ayat yang pertama Q.S 24:31 ( Q.S An-Nuur:31 )

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ
أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا
مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ
عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ
الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

dan ada pada Q.S 33:54 (Q.S Al-Ahzab:54)

إِنْ تُبْدُوا شَيْئًا أَوْ تُخْفُوهُ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Artinya : “ Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Jika ada ayat Al-Qur’an berisi perintah ditujukan dengan kalimat iban yang artinya bukan hanya perintah nilai nya tetapi iman kita dipertaruhkan disitu. Jadi jika ada yang melanggar ketentuan tersebut, bukan hanya dosa tetapi juga ini menunjukan bahwa imannya dalam indikasi lemah pada saat itu. Jadi ingat baik-baik, itu patokannya jika ada ayat Al-Qur’an yang dibuka dengan kalimat iman maka informasi diayat tersebut sekaligus menunjukan indikator tingkat keimanan kita.

Misal,
Kalimat iman pertama di Al-Qur’an disandingkan dengan Shalat.Q.S 2:3 (Q.S Al-Baqarah: 3)

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Nah, dari ayat diatas SHALAT disandingkan dengan IMAN. Artinya penegakkan shalat, pelaksanaan shalat itu sekaligus jadi indikator kualitas keimanan kita.

Jadi intinya menegakkan sholat dan pelaksanaan sholat sekaligus menjadi indikator kualitas keimanan kita.

Jika antum sedang semangat shalat lalu berangkat ke masjid untuk berjamaah,saf pertama, TANDAI teman-teman itu menunjukan bahwa iman antum sedang kuat.

Antum mau tahajud saat orang nonton bola = antum tahajud, 
saat orang sibuk = antum Dhuha. 
saat orang sibuk keluar berpergian atau jalan-jalan = antum ke masjid. 
Nahh, Itu tandanya iman antum sedang menguat disitu.

Begitu pun sebaliknya. Dimana kalau kira-kira kita dalam kondisi malas ke masjid, malas bangun, senang dengan lawan nya, itu menunjukan iman kita sedang bermasalah.

Dan Ayat tentang perubahan keadaan pada perempuan dibuka dengan kalimat iban yang artinya mari kita lihat ukuran keimanan perempuan dan antum bisa ukur pada keluarga antum dirumah jangan tunjuk orang lain dulu. Jangan-jangan satu telunjuk menunjuk pada orang lain , dan tetangga 3 menunjuk pada keluarga antum. Mulai bahaya disitu jika itu terjadi.

Ini pembahasan nya pada ayat tadi Q.S An-Nuur:31
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ
Katakan pada perempuan-perempuan yang masih merasa punya iman 
يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ
Jaga pandangannya ,Dia hanya boleh melihat yang baik-baik saja
وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Dan jaga kemudian kehormatan dirinya, jangan sampai bersentuhan dengan yang bukan mahramnya, jangan sampai mudah kemudian untuk menjual keadaan dirinya, karena jahiliyah melakukan itu, perempuan beriman jangan sampai menjual kehormatannya untuk bisa menggadaikan keimanan nya. Perempuan beriman jangan sampai menjual keadaan pandangan nya untuk meruntuhkan kekuatan imannya. Jaga pandangan mu, jaga dengan baik-baik dirimu, jangan serahkan kehormatanmu pada orang lain. 

Kamu lebih daripada ratu,
Hei perempuan beriman, kalo kita katakan pada bahasa sekarang, tidak setiap orang bisa bersalaman dengan ratu elishabet, kenapa? Karena dia ratu , ketika seorang hendak bersalaman harus dengan prosedur yang sangat ketat.
Dalam islam, setiap perempuan yang beriman dialah ratu yang sesungguhnya, karena ratu dia tidak boleh disentuh kecuali orang yang berhak dan sudah mengalami prosedur untuk menyentuh ratu yang dimaksudkan.
Turunlah ayat ini.  

Untuk menutup yang tidak boleh terbuka,
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنّ
Dari kata Zina yang berarti  jangan sembarangan membuka
Adda, yubdi yang berarti menampakan,
Jadi yang rendah saja jangan dibuka apalagi yang tinggi dari pada itu.

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنّ
dan perempuan beriman jangan mudah membuka yang sederhana pun apalagi membuka yang selebar-lebar nya, jangan sembarangan dibuka.

إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
kecuali memang , yang boleh dan biasa terbuka.
Jadi perempuan, lewat ayat ini tadi dituliskan aurat (sesuatu yang terbuka) diminta oleh Allah menutup aurat nya, kecuali kemudian boleh yang terbuka karena interaksi keseharian yang terbiasa nampak.

HR. Al-Bukhari No.Hadits 4759
أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
“Mereka (para shahabiyah) mengambil kain-kain mereka lalu merobek ujungnya-ujungnya untuk berkhimar (berkerudung untuk menutupi kepala) dengannya.”

Ketika turun ayat ini, semua perempuan-perempuan beriman ingin membuktikan keimanan nya dihadapan Allah SWT. Maka mereka berebut mencari kain-kain yang didapatkan. Bahkan disebutkan disini مِنْ قِبَلِ الحَوَاشِي dari orang (perempuan) yang merobek selimutnya hanya untuk sekedar membuktikan keimannya dihadapan Allah SWT. 

Antum bayangkan sifat orang-orang pada masa itu, begitu turun ayat mereka langsung melaksanakannya tanpa bertanya dan mengeluh atas perintah tersebut. Tetapi ada satu hal yang mereka pertanyakan yaitu “Apakah keimannya mereka diakui oleh Allah SWT. Atau tidak ?”. 

Maka mereka berlomba membuktikan keimanan mereka, bukan masalah kerudungnya, Tapi masalah imannya itu. Itu point pentingnya. Jadi mau kerudung begini begitu itu smua persoalan yang lain. Maka ada yang merobek selimutnya, ada yang merobek sprei nya, demi apa. Itu semua mereka lakukan demi membuktikan keimanan di hadapan Allah SWT.

Zaman dulu, tidak ada kerudung. Dirobeklah selimutnya. Tapi zaman sekarang kerudung model apa yang tidak ada. Jadi tidak ada alasan lagi untuk para perempuan tidak menggunakan atau memakai kerudung.(Mardh. Nurul Ulfi)

Komentar