Home / Bisnis & Ekonomi / Prinsip-prinsip dalam Asuransi Syariah

Prinsip-prinsip dalam Asuransi Syariah

Oleh Mutiara Sani

Berbicara mengenai asuransi, hal itu sudah secara umum telah dikenal sebagai suatu jaminan untuk beberapa aspek kehidupan. Dimana pemerintah membuat beberapa kebijakan untuk membantu meringankan beban masyarakat. Asuransi secara umum dapat dikatakan sebagai rujukan pada tindakan, sistem, atau bisnis. Perlindungan finansial untuk jiwa, properti, dan kesehatan mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak terduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan kerusakan atau sakit. Hal-hal tersebut dapat melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.

Dalam dunia asuransi, ada 6 prinsip dasar yang harus dipenuhi, seperti;

1) Insurable Interest, adalah hak untuk mengasuransikan yang timbul dari suatu hubungan keuangan antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum.

2) Utmost Good Faith, adalah suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap semua fakta yang material mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta ataupun tidak. Dengan kata lain, penanggung harus jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat atau kondisi dari asuransi dan yang tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas objek atau kepentingan yang dipertanggungkan.

3) Proximate Cause, adalah suatu penyebab aktif dan efisien yang menimbulkan rantaian kejadian sehingga mengakibatkan tanpa adanya intervensi sesuatu yang baru dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.

4) Indemnity, adalah suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan menempatkan tertanggung dalam posisi keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian. Dan telah diperjelas dalam KUHD pasal 252, 253 serta dipertegas dalam pasal 278.

5) Subrogation, adalah pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada penanggung setelah klaim dibayar.

6) Contribution, adalah hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya yang sama-sama menanggung tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap tertanggung untuk ikut memberikan indemnity.

Prinsip-prinsip diatas menjelaskan bahwa asuransi melibatkan orang banyak untuk kebutuhan yang berbeda-beda. Berbagai peristiwa dapat melibatkan asuransi karena kepentingan yang dihadapi tidak hanya membutuhkan perkataan dan bukti belaka. Prinsip-prinsip tersebut mencerminkan bahwa lembaga atau perusahaan asuransi mempunyai tujuan tertentu untuk membantu meringankan beban masyarakat. Selain itu, perusahaan asuransi umum memiliki keuntungan tersendiri, misalnya ; investasi. Investasi tersebut diperoleh dari investasi premi yang diterima sampai mereka harus membayar klaim.

Adapun lain halnya dengan asuransi syariah. Sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), asuransi syariah diartikan sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui sistem investasi dalam bentukaset atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) sesuai syariah.

Menurut Ketua Badan Pelaksana Harian DSN, Ma’ruf Amin. Asuransi syariah berbeda jauh dengan asuransi konvesional. Apabila asuransi konvensional biasa menerapkan kontrak jual beli atau dalam Islam dikenal dengan tabaduli, maka asuransi syariah menggunakan kontrak takafuli atau prinsip tolong-menolong antara nasabah satu dengan yang lainnya ketika mengalami kesulitan. Dengan demikian, dalam sistem asuransi syariah terdapat risk sharing. Sedangkan dalam akad tadabuli terjadi jual beli atas risiko yang dipertanggungkan antara nasabah dengan perusahaan asuransi. Hal ini berarti bahwa sistem asuransi konvensional menganut risk transferring atau transfer risiko dari nasabah ke perusahaan asuransi seperti yang telah dijelaskan diatas dalam prinsip-prinsip asuramsi secara umum.

Tidak hanya asuransi secara umum, asuransi syariah pun memiliki prinsip-prinsip. Seperti;

1) Gharar, yaitu unsur ketidakpastiantentang sumber dana yang digunakan untuk menutupi klaim dan hak pemegang polis.

2) Maysir, yaitu unsur judi yang digambarkan dengan kemungkinan adanya pihak yang dirugikan atas keuntungan pihak lain.

3) Riba, yaitu pengambilan tambahan. Baik dalam transaksi maupun pinjam-meminjam secara bathil yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Produk asuransi syariah memiliki produk unggulan yang berbeda sesuai dengan permintaan nasabah. Didalam pengelolaan dana asuransi syariah yang sebenarnya terjadi adalah takaful umum, takaful keluarga dan takaful lainnya yang menyangkut pada asuransi Pendidikan, santunan kematian, dan santunan cacat tetap total.

Asuransi syariah pun memiliki keuntungan tersendiri. Pertama, perlindungannya telah dijamin lengkap. Jasa asuransi syariah memberikan perlindungan tetap, mulai dari perlindungan jiwa, kecelakaan, cacat tetap, rencana keuangan serta biaya kesehatan yang dikelola sesuai prinsip syariah. Dan yang kedua, fasilitasnya double-claim. Maksudnya, asuransi kesehatan langsung membayar sesuai plafaid tanpa memperhatikan berapa sisa tagihan yang belum dibayar oleh BPJS. Selain itu, penggantian biaya perawatan rumah sakit yang disebabkan oleh penyakit maupun kecelakaan juga ikut di cover. Bahkan, asuransi syariah menawarkan fasilitas cashless yang mempermudah perawatan di rumah sakit tanpa pembayaran tunai. Tersedia layanan 24/7 dengan jaringan rumah sakit rekanan diseluruh wilayah Indonesia.

Pembagian surplus keuangan didalam asuransi syariah berkontribusi untuk menjadikan surplus yang didapat menjadi milik semua peserta dan dana bersama ini digunakan untuk membayar klaim. Pembagian surplus keuntungan pada peserta ini dilakukan secara proporsional sesuai kontribusi. Semakin besar kontribusi yang diberikan, maka kita wajib menanyakannya pada agen atau perusahaan asuransi tentang bagaimana dan berapa pembagian surplus yang telah terjadi. Bila terjadi deficit keuntungan, maka langkah pertama akan diambil dari saldo tabarru. Bila nilai klaim masih lebih besar, maka dilakukan pinjaman dengan akad qardh kepada perusahaan asuransi untuk menutup defisit, maka pembagian surplus keuntungan tidak bisa dilakukan. Kumpulan dana peserta yang diinvestasikan sesuai dengan prinsip syariah. Selain itu, setiap keuntungan dari investasi setelah dikurangi dengan beban asuransi (kalim dan premi reasuransi) akan dibagikan menurut sistem bagi hasil (mudharabah). Dengan demikian, tampak jelas keuntungan dan kelebihan yang bisa kita dapatkan dengan bergabung pada asuransi syariah. Dana kontribusi akan dikelola dengan lebih transparan dan bebas dari berbagai macam unsur penipuan dan ketidakpastian.

Asuransi syariah pun memiliki berbagai macam produk, seperti; yang pertama Takaful Individu, jenis prodduk ini hanya memberikan perlindungandan perencanaan yang bersifat pribadi. Kedua, Takaful Group. Jenis produk ini memberikan perlindungan dan perencanaanuntuk pribadi dan kelompok, misalnya seperti sebuah perusahaan. Dan yan ketiga Takaful Umum, jenis produk ini memberikan perlindungan perencanaannya kepada hal-hal yang bersifat umum. Misalnya seperti kerugian akibat kebakaran, kecelakaan, dan lain sebagainya.

Berdasarkan jenis-jenis produk asuransi syariah diatas, kita dapat mengetahui bahwa jenis asuransi syariah memiliki aspek dasar tersendiri. Dilihat dari pengelolaannya, asuransi syariah dibuat untuk mengakomodasi keperluan penjaminan terhadap risiko yang dinilai lebih syar’i. Dari tujuan operasionalnya pun jenis asuransi syariah dibagi menjadi dua tipe, yaitu asuransi komersial dan asuransi sosial. Masing-masing tujuan dari asuransi tersebut untuk mendapatkan keuntungan tersendiri dalam bentuk penjaminan dan perencanaan terhadap suatu risiko dari asuransi itu sendiri. Selain itu, pertanggungan dari berbagai jenis asuransi syariah secara umum dapat dilihat dari segi siapa dana pa yang akan ditanggung. Asuransi jiwa dan asuransi umum sebagai contohnya.

Dari hal-hal tersebut, asuransi syariah memiliki keuntungan tersendiri. Hal itu tidak berkaitan dengan kerugian ataupun keuntungan dari asuransi yang digunakan. Keuntungan asuransi syariah dapat dilihat dari ;

1) Ketidakadaannya Dana Hangus. Dana hangus hanya biasa terjadi pada asuransi yang normal. Karena pada hakikatnya setiap peserta asuransi syariah bisa mendapatkan kembali dana yang telah diberikan. Meski belum waktunya jatuh tempo, ketika peserta ingin mencairkan dana tersebut secara tiba-tiba karena suatu hal, maka asuransi syariah dapat mewujudkannya.

2) Hasil Investasi. Didalam asuransi syariah, kita dapat memiliki hasil investasi yang lebih beragam. Karena bisa memberikan tingkat pengembalian investasi yang dapat menoptimalkan nasabahnya. Jika kita menginvestasikan dana, maka hasil investasi (mudharabah) akan lebih tinggi dibandingkan menabung dengan deposito.

3) Keterlambatan Membayar. Jika kita mengalami keterlambatan dalam pembayaran dalam arti bukan pemberhentian pembayaran, maka proteksi pada dana kita tidak akan berubah. Asuransi syariah tidak akan mengutak-atik keamanan dari dana asuransi yang kita miliki ketika kita mengalami keterlambatan pembayaran karena telah terjadi akad persetujuan yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.

4) Pembagian Nisbah yang Tinggi. Pembagian nisbah yang didapat oleh nasabah mencapai 70 persen, sedangkan untuk asuransi syariah itu sendiri hanya mengambil 30 persen saja. Karena ini merupakan daya tarik asuransi syariah selanjutnya.

5) Bebas Berkontributor Dasar. Hal ini terjadi jika nasabah tidak memiliki kemampuan total untuk melakukan perlindungan diluar batas kemampuan. Selain itu, nasabah mendapatkan penggantian biaya yang disebabkan oleh ketidakmampuan yang dimilliki. Misalkan, seperti biaya rumah sakit yang disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit yang cukup parah. Dan yang terkahir,

6) Asuransi “Double Claim”. Jika asuransi yang kita miliki menggunakan kartu atau cashless, maka satu polis bisa digunakan untuk satu keluarga.

Komentar