Home / Opini / Bank Syariah vs Bank Konvensional

Bank Syariah vs Bank Konvensional

Oleh: Kartini, Mahasiswi STEI SEBI.

(Istimewa)

Di luaran sana masih banyak orang yang belum mengerti mengenai perbedaan bank syariah dan bank konvensional, hal ini sangat wajar dikarenakan akses bank syariah belum merata biasanya hanya terdapat diperkotaan saja dan sulit di temukan di desa desa terpencil sedangkan bank konvensional lebih mudah ditemukan karena layanan konvensional sudah lebih lama berdiri di bandingkan dengan bank syariah dan masih banyak penyebab lainnya seperti kurangnya pemahaman mengenai konsep dari bank syariah itu sendiri, orang orang masih beranggapan bahwasannya bank syariah memiliki perbedaan prinsif yang sama padahal pendapat mereka itu tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.

Bank Syariah dan Bank konvensional memang memiliki fungsi yang sama yaitu menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat, tetapi bank syariah dan bank konvensional memiliki perbedaan, sebelumnya mari kita bahas mengenai apa itu bank syariah dan bank konvensional?

Bank Syariah adalah bank yang beroprasi sesuai dengan prinsip prinsi syariah islam jadi maksudnya itu semua aturan dan kebijakannya pada bank syariah sesuai dengan aturan dan hukum islam Ada beberapa prinsip yang dijalankan bank syariah : Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah) Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah) Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah) Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah) Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang di sewa dari pihak bank oleh pihak lain( ijarah wa iqtina).

Bank syariah memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang dikarenakan banyaknya penduduk muslim di indonesia dan indonesia merupakan salah satu negara dengan pemeluk agama terbesar di dunia dan seharusnya kita sebagai umat muslim harus menggunakan bank syariah karena bank konvensional sistim kerjanya menggunakan bunga dan dalam islam sesuatu yang yang menggunakan riba itu tidak di perbolehkan dalam islam.

Bank syariah di Indonesia sudah mulai berkembang dilihat dari sisi aset maupun pegawainya. Sampai Januari 2017, data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset bank umum syariah dan unit usaha syariah di Indonesia mencapai Rp 344,2 triliun, naik dari tahun 2015 sebesar Rp 296,2 triliun.

Bisa dilihat dari data di atas bahwasannya dari tahun ketahun aset bank syariah mengalami peninggakat yang cukup besar sehingga bank syariah memiliki peluang yang sangat besar dimasa yang akan mendatang Lalu apa yang membedakan bank syariah dengan bank konvensioal? Perbedaan bank syariah dengan bank konvensional terletak pada “istilah” yang digunakan dan “prinsip dasar layanan”. Di dua hal inilah sering membuat orang kebingungan. Untuk membantu Anda lebih mengerti perbedaan kedua jenis bank tersebut, berikut adalah lima hal yang perlu Anda mengerti dan perhatikan tentang bank syariah.

1. Yang membedakan bank syariah dan bank konvensional itu dilihat dari sisi akad maksudnya dilihat dari sisi akad disini adalah kalo dari bank syariah menggunakan sistim bagi hasil atau bagi nisbah sedangkan kalo untuk bank konvensional menggunakan sistim bunga itu yang disebut dengan akad kalo yang berdasarkan al quran dan hadis itu merupakan landasan dasarnya nah kalo dari segi akad yang membedakannya adalah bank syariah adalah menggunakan akad bagi hasil kalo untuk bank konvensional menggunakan sistim riba.

2. Keuntungan Bank syariah mengunakan sistim bagi hasil untuk mendapatkan keuntungan, karena dengan sistim bagi hasil ini maka akan ada sharing resiko antara nasabah dengan pihak bank, dimana keuntungan dan kerugian di tanggung bersama. sementara bank konvensional justru mengunakan konsep biaya untuk menghitung keuntungan. Dalam setiap pinjaman atau pembiayaan yang diberikan kepada nasabah.

Pada bank konvensional, “bunga” yang diberikan kepada nasabah sebenarnya berasal dari keuntungan bank meminjamkan dana kepada nasabah lain dengan “bunga” yang lebih besar.

Misalnya apabila nasabah meminjam uang kepada bank sesuai dengan jumlah yang ingin di pinjam oleh nasabah maka besarnya bunga itu dilihat dari seberapa banyak nasabah meminjam uang dan seberapa lama nasabaha akan membayar uang tersebut semakin lama nasabah meminta jangka waktu untuk membayarnya maka akan semakin banyak bunga yang diperoleh oleh pihak bank.

3. Pengelolaan Dana Bank syariah akan menolak untuk menyalurkan kredit yang diinvestasikan pada kegiatan bisnis yang melanggar hukum Islam, seperti perdagangan barang-barang haram dan perjudian (maisir).

Sesuai dengan namanya bank syariah maka mereka hanya akan melayani transaksi transaksi sesuai dengan prinsip dan aturan dalam islam dan mereka akan menyelidiki terlebih dahulu uang yang akan disalurkannya untuk kegiatan apa apakah kegiatan tersebut mengandung maslahat atau sebaliknya kegiatan tersebut malah menggandung mafsadah yang besar.

Sementara bank konvensional akan menyalurkan kredit tanpa harus mengetahui dari mana atau kemana uang tersebut disalurkan, selama debitur bisa membayar cicilan dengan rutin.

Maka tidak akan menjadi masalah untuk bank konvensional uang tersebut akan disalurkan untuk apa dan kegiatan apa, yang mereka pikirkan hanyalah mencari keuntungan sebesar besarnya.

4. Hubungan Bank & Nasabah Hubungan bank dan nasabah sangat penting karena yang membedakan bank syariah dan bank konvensional salah satunya adalah hubungan yang baik anatara bank dengan nasabah. Kalo hubungannya baik otomatis mereka akan mempercayai bank tersebut jadi hubungan nasabah dengan bank itu harus dijaga sebaik mungkin selain itu juga supaya nasabah merasa nyaman dengan pihak bank, inilah yang menjadi salah satu keunggulan yang tidak banyak dimiliki oleh bank konvensional.

Sedangkan di bank konvensional, hubungan nasabah dan bank lebih pada hubungan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Jika debitur lancar dalam pembayaran kredit, bank akan memberikan keterangan lancar. Sedangkan jika pinjamannya macet, bank akan menagih hingga menyita aset yang digunkan.

5. Cicilan & Promosi Bank syariah menerapkan sistem cicilan dengan jumlah tetap berdasarkan keuntungan bank yang sudah disetujui antara pihak bank dan nasabah saat akad kredit.

Contohnya melakukan kredit dengan bank syariah misalnya beli motor seharga 15 juta nah yang 15 juta ini akan di anggap modal oleh bank syariah nah nanti untuk kesepakatannya bank syariah ini mendapat keuntungan berapa dari 15 juta itu dengan asal kesepakatan bank syariah ini mendapat untung 3 jt otomastis totalnya 18 jt nah yang dicicil dengan cicilan tetap selama 18 juta itu yang diciccil, tetapi yang membekan ini bukan akad pinjam tetapi jual beli murobahah tapi melalui cicilan tetapi cicilannya itu sesuai dengan kesepakatan awal sebesar keuntungan 3 juta itu sudah diketahui dari awal kalo menggunakan bank konvensional akan ada bunga yang tidak tetap sehingga mengakibatkan tidak konsisten dari segi pembayaran.