Breaking News
Home / Oase / Bermunajat Antara Harapan dan Ketakutan

Bermunajat Antara Harapan dan Ketakutan

Setiap saat pasti ada hamba-hamba Allah yang berdo’a kepada Allah yang amat dekat dengan mereka dan akan mengabulkan do’a orang yang memohon kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 186 yang artinya,”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” Tetapi munajat memiliki nuansa yang khas, cara-cara dan ungkapan-ungkapan yang spesifik, khususnya bila dilakukan dipenghujung malam dalam qiyamul lail, dimana pada saat itu akan tercipta kemesraan dan kerendahan diri yang total kepada Allah. Karena dilakukan di keheningan malam disaat manusia terlelap dalam tidur pulasnya, serta jauh dari penglihatan dan pendengaran mereka.

Dalam bermunajat seseorang harus mengikhlaskan hatinya kepada Allah, membersihkannya dari apapun selain Allah dan menghiasi diri dengan sikap kerendahan diri sebagai seorang hamba dihadapan Tuhannya. Diiringi suasana yang penuh dengan kesadaran akan kelemahan dan ketidak berdayaan dirinya, hasrat yang kuat untuk berlindung diri dan memohon pertolongan dari Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Diiringi pula suasana yang penuh perasaan takut kepada Allah dan kekhawatiran terhadap siksa-Nya, pengakuan akan dosa-dosa dan kelalaiannya terhadap hak-hak Allah, hasrat yang kuat untuk memohon maaf dan ampunan dari Yang Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Diiringi perasaan harap dan cemas, serta keinginan yang kuat untuk memohon rahmat dari Yang Maha Rahmaan dan Maha Rahim.

Dalam munajat, juga harus diisi dengan pujian dan sanjungan, syukur dan do’a, penghormatan dan pemuliaan kepada Allah, serta penyucian dan pengagungan kepada Allah. Diisi dengan tasbih, tahlil dan takbir, tawakkal dan pendekatan diri, serta taubat dan istighfar. Dan diisi dengan permohonan petunjuk, pertolongan, penyelamatan, perlindungan, pembelaan dan kemenangan di dunia, keberuntungan dan kebahagiaan di akhirat, semua ini dalam naungan cinta yang timbal balik antara Allah dengan para hamba-Nya. 
 
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Fushshilat : 30-33).

Yakni mereka ikhlas dalam beramal hanya karena Allah Swt., yaitu dengan menaati apa yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. kepada mereka. Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salam ibnu Qutaibah atau Qutaibah Asy-Sya’iri, telah menceritakan kepada kami Suhail ibnu Abu Hazim, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas ibnu Malik r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membacakan ayat berikut kepada kami, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka. (Fushshilat: 30) Sesungguhnya ada segolongan manusia yang telah mengucapkannya, tetapi setelah itu kebanyakan dari mereka kafir. Maka barang siapa yang mengucapkannya dan berpegang teguh kepadanya hingga mati, berarti dia telah meneguhkan pendiriannya pada kalimah tersebut. Hal yang sama telah dikatakan oleh Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya, juga Al-Bazzar, dan Ibnu Jarir, dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Muslim ibnu Qutaibah dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari ayahnya, dari Al-Fallas dengan sanad yang sama. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir ibnu Sa’id, dari Sa’id ibnu Imran yang mengatakan bahwa ia pernah membaca ayat berikut di hadapan sahabat Abu Bakar As-Siddiq r.a., yaitu firman Allah Swt.: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendiriannya.(Fushshilat: 30) Lalu Abu Bakar mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan melalui hadis Al-Aswad ibnu Hilal yang mengatakan bahwa Abu Bakar r.a. pernah mengatakan, “Bagaimanakah menurut kalian makna firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendiriannya?” (Fushshilat: 30) Maka mereka menjawab, “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendiriannya dengan menghindari dari perbuatan dosa. Maka Abu Bakar r.a. berkata, “Sesungguhnya kalian menakwiIkannya bukan dengan takwil yang sebenarnya. Lalu mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendiriannya, tidak menoleh kepada Tuhan lain kecuali hanya Allah. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Aqdi, -dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai suatu ayat di dalam Kitabullah yang paling ringan. Maka Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendiriannya. (Fushshilat: 30) dalam bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah. Az-Zuhri mengatakan bahwa Umar r.a. membaca ayat ini di atas mimbarnya, kemudian mengatakan, “Demi Allah, mereka meneguhkan pendiriannya karena Allah dengan taat kepada-Nya, dan mereka tidak mencla-mencle seperti musang.”

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendiriannya. (Fushshilat: 30) dalam menunaikan hal-hal yang difardukan oleh-Nya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah. Qatadah mengatakan bahwa Al-Hasan selalu mengatakan dalam doanya, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka berilah kami istiqamah (keteguhan dalam pendirian).” Abul Aliyah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kemudian mereka meneguhkan pendiriannya. (Fushshilat: 30) Yakni mengikhlaskan ketaatan dan beramal karena Allah SWT. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ya’la ibnu Ata, dari Abdullah ibnu Sufyan, dari ayahnya, bahwa seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perintah dalam Islam, yang kelak aku tidak akan bertanya lagi kepada seorang pun sesudahmu.” Rasulullah SAW. bersabda: Katakanlah, “Tuhanku ialah Allah, ” kemudian teguhkanlah pendirianmu! Lelaki itu bertanya, “Lalu apakah yang harus kupelihara?” Rasulullah SAW. mengisyaratkan ke arah lisannya (yakni menjaga mulut).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Humaid, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda: Barang siapa yang menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah menyukai pula perjumpaan dengannya. Dan barang siapa yang tidak suka perjumpaan dengan Allah, maka Allah tidak suka pula berjumpa dengannya. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kita semua tentu tidak suka mati.” Rasulullah Saw. menjawab: Hal itu bukan berarti membenci kematian, tetapi seorang mukmin itu apabila menjelang kematiannya didatangi oleh malaikat pembawa berita gembira dari Allah SWT. yang menceritakan kepadanya tempat yang bakal dihuninya. Maka tiada sesuatu pun yang lebih disukainya selain dari perjumpaan dengan Allah SWT. Maka Allah pun suka menjumpainya. Rasulullah SAW. melanjutkan kisahnya, bahwa sesungguhnya seorang pendurhaka atau seorang kafir apabila menjelang kematiannya didatangkan kepadanya keburukan yang kelak akan menjadi tempat tinggalnya atau keburukan yang akan dijumpainya. Karena itu ia membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun tidak suka berjumpa dengannya. Hadis ini sahih, dan di dalam kitab sahih hadis ini telah diketengahkan melalui jalur yang lain. Wallahu a’lam bishowab.( Muhammad Malik Sayyid Ahmad/STEI SEBI)

Sumber :
Fiqh dakwah jilid 2
Ringkasan tafsir Ibnu Katsir jilid 4