Breaking News
Home / Oase / Evaluasi Diri Ala Rasulullah SAW

Evaluasi Diri Ala Rasulullah SAW

 

 

“Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintropeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya setelah mati

Sedangkan orang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan kosong “

(HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, dari Abu Ya’la Syaddad Ibn Aus ra)

 

Hadis Nabi di atas mengajarkan kepada kita KESADARAN DIRI akan pentingnya EVALUASI DIRI ,sebagai manusia teladan, Rasulullah SAW, telah melakukan evaluasi pada setiap amal yang ia lakukan, oleh karena itu, sebagai pengikut Rasulullah, sudah sepatutnya kita mengamalkan apa yang Rasulullah lakukan.

Ketika itu wahyu pertama turun, wahyu pertama yang Allah sampaikan melalui malaikat Jibril berupa QS Al-‘Alaq ayat 1-5 hadirnya wahyu pertama itu membuat Rasulullah bimbang, Apakah yang turun itu namus (wahyu Allah seperti pada para nabi dan rasul yang terdahulu) atau lainnya? Pertanyaan itu sebagai wujud KESADARAN DIRI seorang hamba yang berorientasi akhirat, di mana Rasulullah berusaha mencari jalan keluar terbaik bagi kaumnya yang jahiliah, itulah kesadaran spiritual hamba pada Khalik-nya.

Memang sebagai manusia biasa kita tidak memiliki kepekaan seperti para nabi, tapi setidaknya ketahuilah bahwa kepekaan bisa diasah dengan melakukan evaluasi terhadap semua amal yang kita lakukan, dengan melakukan evaluasi, kita akan menemukan banyak hikmah kehidupan, Evaluasi atau berinstropeksi diri bertujuan agar kita dapat mengukur pencapaian hidup, sudah seberapa jauh kita melangkah? Sudah sebanyak apa amal yang kita lakukan?

Allah Swt, mengabadikan dengan jelas perintah untuk melakukan evaluasi diri di dalam Al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “ (QS Al-Hasyr:18)

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan evaluasi diri, yaitu:

1.Jangan pernah merasa paling hebat! Sadarilah, sekiranya kita telah berbuat, maka pada dasarnya hasil perbuatan itu adalah atas pertolongan Allah semata

2.Jangan pernah merasa sebagai pahlawan! Sadarilah, bahwa setiap orang memiliki jasa sesuai dengan kedudukannya masing-masing Sadarilah bahwa kita tidak mampu berbuat suatu apa pun tanpa peran orang lain

3.Jangan pernah merasa sebagai motor perubahan! Merasa sebagai motor perubahan akan menumbuhkan benih kesombongan dan keangkuhan di dalam diri, kedua hal itu adalah hal yang sangat berbahaya dan bisa menumpulkan semangat perubahan kolektif karena tidak disukai orang lain kita pasti memiliki pengalaman yang beragam dalam mengarungi kehidupan, oleh karena itu, jadikanlah pengalaman itu sebagai ‘guru kehidupan’ jangan lupa petiklah hikmah dari setiap perjalanan kita, sehingga hidup kita akan menjadi lebih hidup! (Ihza Della Priskila)

 

Referensi buku Guru Kehidupan : Memetik Hikmah Menebar Maslahah