Home / Oase / Hukum Putus Asa dan Cara Mengobatinya

Hukum Putus Asa dan Cara Mengobatinya

Al Ya’s (Putus Asa) berarti Al Qunuth (Frustasi) tentang arti diatas tercantum dalam al-qur’an QS.Yusuf : 87 “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Alah. Sesungguhnya yang berputus dari rahmat Allah , hanyalah orang-orang kafir” ayat tersebut menjelaskan bhawa Allah sangat melarang berputus asa dalam melakukan sesuatu. Al ‘Izza’ menerangkan “Putus asa dari rahmat Allah berarti mengecilkan keluasan rahmat Allah dan ampunan-Nya. Dan ini adalah dosa yang sangat besar dan menjadikan sempit kebaikan Allah yang sesungguhnya teramat luas”.

Ibnu Hajar mengkategorikan putus asa sebagai salah satu dosa besar. Pendapat ini berpegang teguh pada ayat diatas. Para Ulama berpendapat tentang hal ini. Diriwayatkan bahwa seseorang pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud mengenai sebuah dosa yang ia kerjakan apakah ia msih bisa bertaubat? Ibnu Mas’ud berpaling darinya, lalu ia melihat kedua matanya berlinang air mata. Lalu ia berkata kepadanya, “Sesungguhnya surga memiliki delapan pintu. Semuanya terbuka dan tertutup, kecuali pintu tobat. Pintu itu dijaga oleh malaikat yang ditugaskan agar agar tidak pernah tertutup. Beramallah dan janganlah berputus asa”. 

Al-Qur’an mengobati putus asa dengan dua sumbu, yaitu:

Sumbu Pertama
Ayat-ayat yang menyeru kepada tauhid akan membangkitkan harapan dan ketentraman dalam hati manusia. Sebagaimana firman Allah Qs.Al Ahzab : 3 “Dan bertakwalah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa iman menghendaki adanya Tauhid. Dan Tauhid membawa hambanya kepada kepasrahan. Kepasrahan kepada Allah akan memudahkan jalan seorang hamba menuju Ridho-Nya, memudahkan jalan seorang hamba didunia dan akhirat. Kepasrahan selalu dibarengi dengan iman kepada Allah. Keimanan dalah cahaya. Jika cahaya sudah memasuki hati dan diri seorang hamba, niscaya iman akan tampakkan hikmah-hikmah dari semua takdir Allah.

Sumbu Kedua
Membangkitkan semangat setinggi mungkin. Perasaan putus asa yang terdapat dalam diri manusia terkadang berasal dari semangat yang menurun, melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, menyibukkan diri sehingga melupakan penghambaan kepada Allah sehingga dari hal-hal itu setan lebih mudah membisikkan bisikan yang mampu menipu daya manusia dan menghasilkan manusia yang lalai dan tidak bergairah dengan cita-citanya.
Oleh karena itu janganlah berputus asa sehingga kita mengkufuri nikmat-nikmat yang telah Allah beri. Bersabarlah dan dekatkan diri selalu jika apa yang kita iginkan belum juga terwujud. Karena mungkin saja yang kita inginkan tidak baik untuk kita dan Allah sapkan yang lebih baik gdan bermanfaat bagi kehidupan kita kedepannya.(Thalbiyatul Ababillah Hasan/STEI SEBI)

Sumber: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Karangan: Ahmad abduh ‘Iwadh