Breaking News
Home / Artikel / Kelezatan Iman Yang Hilang

Kelezatan Iman Yang Hilang

Alkisah disuatu negeri ada saudagar yang sholeh memulai usaha dari modal kecil hingga saat ini sangat kaya raya. Dengan kekayaannya tentu ia dapat mempunyai apapun yang dia mau, satu dua tahun berlalu kekayaannya tambah berlimpah, wanita-wanita memenuhi harinya, fasilitas mewah menyertai kehidupannya, kesenangan duniawi selalu siap menemaninya. Sebab, kekayaannya melimpah ruah. Tapi itu semua dia lakukan dengan menentang peraturan Rabbnya tidak seperti dahulu dengan kesholehannya, sekarang segala cara ia halalkan agar hartanya terus bertambah dan bertambah, namun hatinya tidak dapat dibohongi ia tetap merasa sepi, sunyi pada lubuk hati terdalamnya, tetapi ia tidak paham apa yang hilang darinya.

Di lain kisah hidup sosok sederhana, jujur, berwatakkan tenang serta murah senyum, hari-harinya ia habiskan untuk bertani, tidak lupa setiap paginya diiringi pula dengan shalat duha, sebagai bentuk ikhtiar agar segala macam rezeki dimudahkan oleh RabbNya, juga amalan sedekah tidak pernah terlewatkan, ayat ayat Qur’an selalu terlafadzkan dari bibirnya, hatinya tenang sebab dipenuhi dengan kedekatan dirinya terhadap RabbNya, walaupun kehidupan kesehariannya dipenuhi keterbatasan namun hatinya tenang dan senantiasa mensyukuri segala nikmat Rabbnya yang ia dapatkan hingga detik ini.

Al-Hafidz Ibn al-Jauzi dalam kitabnya, Shaid al-Khaitir menuturkan bahwa andai saja orang yang melakukan maksiat menyadari betapa kenikmatan maksiat itu hanya sesaat, kemudian setelah itu dia merasakan akibat kemaksiatannya, yaitu kemurkaan Allah, dosa, dan siksa-Nya, maka orang itu tidak akan sanggup melakukan maksiat.

Namun yang terjadi adalah orang itu terpesona dengan kenikmatan maksiat, berzina dan berzina, memakan riba, berbohong, korupsi, mencuri, menipu. Baginya kemaksiatan tidak berdampak apapun terhadap kehidupannya, dia tetap enjoy dengan kebergelimangan maksiat. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan orang yang seperti ini?

Ibn al-Jauzi memberikan jawaban “kemaksiatan itu diganjar dengan kemaksiatan”. Ketika seseorang melakukan suatu maksiat, lalu diikuti maksiat berikutnya. Sesungguhnya itu siksaan Allah, tetapi dia tidak merasa sedang disiksa Allah, dengan diambilnya kelezatan kedekatan dengan Rabbnya, tidak dapat merasakan nikmatnya ketaatan, shalat dan doa pun kehilangan ruhnya, karena tidak dapat lagi merasakan kenikmatan itu, dia pun mulai meninggalkan shalat, serta Qur’annya karena baginya Al-Qur’an dan shalat hampa terasa, diapun jauh, semakin jauh dari ketaatan.

Bila tanda-tanda tadi menghinggapi diri-diri ini maka bersegeralah kembali kepadaNya, agar setitik kenikmatan keimanan tidak lenyap dari hati, agar suara keimanan tidak hilang saat kita terperdaya ingin melakukan suatu maksiat, sebab hal yang tidak dapat diprediksi hingga saat ini adalah Grafik naik dan turunnya keimanan.

Sesungguhnya maksiat itu membunuh kelezatan ketaatan kepada Allah, dalam Qs. Ali –imran:8 terdapat doa agar Allah jaga keimanan setiap insan, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Dan karunialah kepada kami rahmat dari sisi engkau. karena  Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.” Aamiin allahumma aamiin. LIZZ. ( Liza Fazira / STEI. SEBI)