Breaking News
Home / Feature / Kunci Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat

Kunci Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat

Kita hidup di dunia tidak lain dan tidak bukan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Tak jarang kita sering mendapat musibah, ujian, dan cobaan. Ketidaksempurnaan dan ketidakidealan menurut pribadi kita juga sering kita temui. Sejatinya, segala masalah, ujian, serta kondisi yang terkadang tidak sesuai dengan harapan kita adalah jalan bagi diri kita untuk selangkah lebih maju dan lebih tinggi dalam menapaki jalan kehidupan.

            Agar kita senantiasa diliputi ketenangan hati dan memiliki kekuatan untuk menghadapi hidup ini, Allah telah menurunkan Al-Qur’an dan as-Sunah sebagai petunjuk kehidupan. Apabila kita mengikuti petunjuk tersebut insya Allah hati kita akan tenang. Berikut adalah hal-hal yang harus kita lakukan di dunia agar kehidupan kita bahagia :

1. Ubah Mindset                                                

            Jika kita dihadapi suatu masalah serta rasa cemas dalam menjalani hidup, yakinlah itu salah satu untuk meningkatkan iman kita. Kita tidak akan mampu terbebas dari rasa cemas, kecuali jika kita bersungguh-sungguh mengatasi hal tersebut. Lalu, bagaimana caranya? Simple sekali, kita hanya butuh mengubah dan meluruskan gaya berpikir kita. Kita tidak akan yakin mampu merasa bahagia jika kepala kita hanya dipenuhi dengan kesedihan yang terus menerus dan kesusahan yang terasa berat untuk dipikul.

            Hidup kita sudah tentu merupakan hasil aktivitas berpikir kita. Oleh karena itu, dengan kapasitas diri kita masing-masing, kita dapat mengubah jalan hidup dengan cara mengubah jalan berpikir. Sebenarnya, bayangan pikiran yang dimiliki setiap orang tentang diri sendiri juga tentang hal yang akan dilakukan, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan pribadi.

            Rasa bahagia disebabkan kerelaan untuk menerima keadaan diri kita sendiri. Kita tidak membenci apa yang terjadi dan tidak mencemaskan masa depan. Merasa optimis dan bergembira dalam hidup. Hal yang menentukan bahagia atau tidak ialah diri sendiri, akal dan pikiran.

2. Jadilah sosok berbeda

            Kita seringkali tak menghargai bahwa setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Ada perbedaan individu yang sangat besar diantara kita. Contoh, sebuah keluarga memiliki kemahiran yang berbeda. Ahmad mahir di bidang Olahraga, adiknya mahir di bidang melukis. Sedangkan ayahnya mahir di bidang bahasa. Semua itu adalah bakat dan ciri khas kepribadian masing-masing. Kita tidak boleh meminta dan memaksa seseorang untuk memakai kepribadian orang lain.

            Kita harus merasa bahwa kita memiliki kepribadian yang istimewa. Kita berbeda dari orang lain dan memiliki kepribadian yang dapat menjadi kebanggan bagi diri kita sendiri. Kita tidak tunduk kepada pengaruh luar dan gaya orang lain.

            Jika kita berupaya meniru gaya orang, kita tidak akan memberikan tambahan yang berarti, melainkan hanya sekedar meniru. Perasaan bangga  terhadap diri sendiri, komitmen untuk tetap berpegangan dengan hal itu, serta sikap kita yang tidak suka meniru orang lain, semua itu membantu kita untuk memperoleh ketenangan jiwa dan berperan mengatasi kecemasan serta kesusahan. Hal itu pula yang akan menjadikan kita merasa bahagia.

3. Move On dan Move Up

            Perasaan sedih karena masa lalu dan mengingat perisitwa masa lalu yang tidak mungkin dapat terulang merupakan suatu kelemahan yang akan menjadikan seseorang merasa terus terbelenggu dan hanya akan menjadikannya lemah tak berdaya.

            Perbuatan yang harus kita lakukan saat ini adalah mengerjakan sesuatu dengan sempurna diserta dengan meminta pertolongan kepada Allah. Insya Allah, kita tidak akan lemah kemenangan akan menemani kita.

            Akan tetapi, apabila Allah menakdirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita, ibarat angin berembus tanpa mengikuti kemauan perahu layar, janganlah menyesal dan kecewa atas peristiwa itu sehingga kita mengatakan, “ seandainya kemarin aku melakukan ini dan tidak mengerjakan itu, niscaya akan baik hasilnya”.

            Perkataan seperti itu adalah perkataan orang yang lemah dan hanya akan menyebabkan kita merasa susah dan sedih. Namun, jika kita ridho dan menerima takdir dari Allah pasti kita mengatakan, “Semuanya telah menjadi takdir Allah, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.”

            Menyesali peristiwa masa lalu pada saat sekarang sama halnya dengan membuang waktu. Kita hidup hari ini, lalu mengapa tidak berharap agar hari ini lebih baik dari hari kemarin? Anggaplah hari ini merupakan seluruh hidup kita. Oleh karena itu, kerjakanlah hal-hal yang harus dikerjakan pada hari ini. jangan melihat masa lalu yang akan membuat kita merasa bersedih. Jangan pula melihat masa depan yang akan menjadikan kita cemas dan takut.

Hendaklah kita menyusun rencana untuk masa depan. Karena itu hal yang sangat penting dan perlu agar kita memiliki pekerjaan yang positif dan sangat membangun. Aturlah hari-hari kita sehingga kita dapat mengambil manfaat dari bebarapa yang semuanya akan bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat. Dengan demikian, kita akan bahagia di dunia dan kita tergolong sebagai orang-orang yang menang di akhirat. ( Sabrina Jamilah /STEI SEBI )