Breaking News
Home / Artikel / Makna Pancasila dalam Perspektif Seorang Muslim

Makna Pancasila dalam Perspektif Seorang Muslim

Pancasila digaungkan kembali pada pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 didepan sidang Dokuritsu Zunbi Tyusakai (Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan). Pancasila terdiri dari sila-sila yang digali dari budaya dan nilai-nilai luhur yang sudah sejak lama ada di bumi Indonesia, nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai musyawarah, dan nilai keadilan.

Sebagai seorang muslim, kita menyadari bahwa pada Founding Father mendirikan bangsa ini bukan atas dasar Al-Quran dan Hadist bukan semata-mata negara ini adalah negara kafir namun atas dasar kesediaan untuk saling menerima perbedaan yang sudah lama nyata ada di bumi Indonesia, perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan merupakan kekayaan bangsa ini, untuk menyatukan itu semua maka Pancasila dijadikan dasar Negara.

Kesediaan untuk saling menerima perbedaaan inilah yang saat ini sudah mulai luntur dan hilang dari jati diri anak bangsa, maka dalam momentum hari Pancasila ini, sebagai seorang muslim, marilah sama-sama kita memaknai kembali sila-sila Pancasila yang sesungguhnya bersumber dari Al-Quran itu sebagai sumber tata nilai yang sudah ada sejak lama di bumi Indonesia.

Sila ketuhanan, sila ini menegaskan ketuhanan yang dianut oleh bangsa ini adalah Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana ditegaskan UUD Pasal 29 ayat (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan yang ahad sebagaimana surat Al-Ikhlas 112:1:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1)

Sila kemanusiaan, sila ini menegaskan kemanusiaan yang dianut oleh bangsa ini adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagaimana dalam Firman Allah SWT surat An-Nahl 16:90:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90)

Sila persatuan, sila ini menegaskan persatuan merupakan pilihan bangsa ini oleh sebab senasib sepenanggungan selama masa penjajahan dan saat merebut kemerdekaan, tidak mau dipisahkan dan diadu domba kembali sebagaimana masa kolonial dahulu, Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa (alinea ketiga) akhirnya kemerdekaan itu dapat direbut dengan perjuangan bukan diberikan. Maka persatuan ini adalah merupakan rahmat Allah SWT dan perjuangan untuk saling menerima perbedaan Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana Allah SWT firmankan kisah bangsa yang merdeka berikut (QS. Ali Imron 3:103):

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)

Sila kerakyataan, kerakyatan ini pimpin oleh hikmat kebijaksaan yang dituangkan dalam bentuk lembaga pemusyawartan dan perwakilan, negara ini bukan negara otoriter namun juga bukan negara bebas sebebas-bebasnya (liberal) namun negara musyawarah yang hajat hidup rakyatnya ditentukan dengan cara-cara musyawarah oleh para wakilnya dengan penuh hikmat kebijaksaan memperhatikan mashlahat sebagaimana Firman Allah SWT Ali Imran 3:159:

 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)

Sila keadilan sosial, adil bukan hanya dalam bidang hukum saja tapi adil dalam ekonomi, adil dalam politik, adil dalam kemanusiaan, adil dalam pelayanan umum, adil dalam masyarakat sosial, adil dalam pendidikan dan layanan kesehatan yang merupakan cita-cita bangsa yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial untuk menggapai kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, semuanya itu dapat terwujud dengan ditunaikannya amanah dan ditegakkannya keadilan seadil-adilnya. Sebagaimana firman Allah SWT surat An-Nisaa 4:58:

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58)

Saya Muslim dan Saya Pancasila

( Ahmad Husain Barawi / STEI SEBI)