Breaking News
Home / Bisnis & Ekonomi / Memahami Bedanya Bisnis Syariah dengan Bisnis Biasa

Memahami Bedanya Bisnis Syariah dengan Bisnis Biasa

Ada banyak sekali yang menanyakan perihal ini, apa bedanya bisnis syariah dengan bisnis biasa, kan sama-sama bisnis? Sekarang juga sedang ngetren ya kuliah jurusan bisnis syariah bedanya apa ya? Mulai dari para pemilik bisnis menanyakan ini, para mahasiswa, bahkan praktisipun juga tidak jarang menanyakan perihal ini.

Lebih tepatnya sebagai bisnis syariah dalam prilaku bisnisnya menyesuaikan dengan nilai keislaman didalamnya, sebagai contoh umum salah satu prilaku dari sebuah bisnis syariah adalah mewajibkan seluruh karyawannya berhenti dari rutinitas dikantor apabila telah mendengar adzan berkumandang, namun dikecualikan pada yang berhalangan untuk mengerjakan shalat (wanita yang sedang datang bulan atau haid). Lalu terbiasa untuk saling mengingatkan bernuansa ‘amar-ma’ruf nahi mungkar’ dari masalah kecil hingga besar yang tentunya bertentangan dengan kebiasaan dan ketetapan dalam agama islam sendiri, membiasakan hal positif dipagi hari dengan membaca Al-Qur’an bersama dan pemberian kajian motivasi singkat setiap pagi hari sebelum memulai aktivitas di tempat kerja.

Membedakan  perusahaan syariah, dan perusahaan non syariah paling tidak ada empat hal yang menjadi perhatian khusus, yaitu apakah akad kerjasama pada perusahaannya didasarkan prinsip islam, lalu apakah diatur dalam mekanisme produksi islami, pencataatan dan kebijakkan akutansi dan keuangannya berbasis prinsip islam, dan juga dengan budaya perusahaan yang tercermin dari performa perusahaan menunjukkan citra keislaman.

Pada dasarnya memang keinginan pada sebuah perusahaan yang memiliki citra islami adalah sebuah keinginan spiritual, namun tidak menutup kemungkinan banyak  pihak yang diharapkan mendapatkan kebaikkan darinya, terutama dalam masalah akhlak dan kecenderungan melakukan apa yang di perintahkan dalam agamanya.

Kisah nyata bisa menjadi contoh efek baik dari penerapan nilai-nilai keislaman dari sebuah perusahaan yang asetnya naik luar biasa. Uniknya, dalam perusahaan ini bagian personalianya selalu menanyakan kepada para karyawannya ketika ia masuk ke kantor dengan pertanyaan utamanya “tadi malam shalat tahajjud tidak?” jika sang karyawan mengatakan tidak tahajjud maka ia pun diminta untuk pulang dan tidak bekerja, berakhir dengan pemotongan gajinya. Namun yang lebih unik ada beberapa karyawan yang bahkan mengembalikan gajinya karena dia menganggap dirinya tidak  layak mendapat gaji sebesar yang telah dia dapatkan dari atasannya, inilah efeknya saat banyak karyawan menuntut penaikkan gaji diperusahaan lain, tapi kali ini dikembalikan karena bekerja dengan keikhlasan bahkan merasa tidak pantas mendapatkan hasil atas apa yang ia kerjakan.

Keseluruhan ini tidak terlepas dari triangel yang meliputi akidah, syariah, dan akhlak. Performa yang baik dan tampak islami tidak menjamin pemahaman akan ketauhidan yang baik dan ketaatan aturan syariah. Aturan yang telah diturunkan dari syariah islam kemudian menjadikannya sebagai sebuah candu hukum.

Keberhasilan bisnis syariah bukan hanya dilihat dari tertibnya seluruh komponen perusahaan menerapkan semua aturan yang berkonsep islami, tetapi juga dilihat dari sisi berhasil atau tidaknya perusahaan menaati untuk tidak terjebak dalam konsep ribawi, juga akad-akad yang tidak jelas (gharar) dalam prilaku bisnisnya, sebab darinya keberkahan akan terpancar dan menimbulkan rezeki yang tidak terduga-duga. Sebab matematika tuhan tidak pernah sama dengan matematika manusia yang menghitung sesuai dengan logika. Seperti inilah corporate culture islami yang membedakannya dengan perusahaan non syariah. Wallahu’alam bish shawab- Lizz