Home / Opini / OPINI: Pembiayaan Mudharabah Solusi untuk UMKM

OPINI: Pembiayaan Mudharabah Solusi untuk UMKM

Maraknya perkembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) belakangan ini membawa berbagai dampak positif bagi perekonomian kita. Hal ini menunjukan bahwa perekonomian negara kita telah bangkit kembali. Kebangkitan ekonomi merupakan pertanda bahwa negara kita semakin berkembang. Oleh karena itu, peran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam perkembangan ekonomi sangatlah penting.

Perkembangan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini telah memotivasi masyarakat untuk berwirausaha. Hal ini merupakan pertanda baik. Dengan banyaknya para wirausahawan yang muncul, dapat mengurangi jumlah pengangguran di masyarakat. Dampaknya, tingkat ketergantungan di masyarakat bisa menurun dan angka kemiskinan bisa diminimalisir.

Namun ada satu permasalahan yang mengganggu bagi calon wirausaha. Apa itu? Tentu saja ketiadaan modal. Modal memegang peran penting dalam mendirikan suatu usaha. Tanpa modal, seorang calon wirausaha tidak bisa memulai usahanya.

Lalu apa solusinya? Apa yang harus dilakukan calon wirausahawan untuk memperoleh modal yang ia butuhkan? Pembiayaan Mudharabah adalah solusinya. Mayoritas masyarakat tidak mengenal istilah itu. Lalu, apakah arti Mudharabah?

Mudharabah adalah akad kerja sama antara dua belah pihak, yaitu pihak pemodal (Shahibul maal) dan pihak pengelola (Mudharib). Kedua belah pihak ini bekerjasama untuk membuat sebuah usaha, dan keuntungan dari usaha tersebut dibagi dua berdasarkan nisbah yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Mudharabah adalah salah satu akad yang digunakan oleh Bank Syariah dalam produk pembiayaan. Dalam pembiayaan Mudharabah, Bank Syariah berperan sebagai Shahibul Maal dan Nasabah berperan sebagai Mudharib. Lantas, bagaimana sistem pembiayaan Mudharabah ini?

Berikut ini adalah tahapan dalam proses pembiayaan mudharabah :
1. Seorang calon wirausahawan yang kekurangan modal datang ke Bank Syariah untuk mengajukan pembiayaan Mudharabah.
2. Nasabah dan Bank Syariah berunding tentang berapa pokok pembiayaan yang diajukan nasabah, nisbah bagi hasil keuntungan, dan ketentuan pembiayaan yang lainnya.
3. Setelah kedua belah pihak sepakat, maka Bank Syariah bisa mencairkan dana pembiayaan tersebut. Lalu calon wirausahawan bisa menggunakan kemampuan (skill) yang dimilikinya serta dana dari bank tersebut untuk membuat sebuah usaha.
4. Ketika usaha tersebut meraih keuntungan, maka keuntungan dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati di awal akad. Misalkan nisbah 30:70. Artinya keuntungan sebesar 30% untuk Bank Syariah, dan keuntungan sebesar 70% untuk nasabah yang mengajukan pembiayaan.
5. Nasabah mengembalikan modal yang dipinjamnya kepada Bank Syariah.

Bagaimana kalau usaha yang dijalankan Nasabah rugi? Siapa yang akan menanggung kerugian tersebut?

Berikut ini adalah ketentuan bila terjadi kerugian dalam akad Mudharabah :

1. Kerugian ditanggung oleh Shahibul Maal jika kerugian itu bukan disebabkan oleh kelalaian Nasabah dalam mengelola usahanya.

2. Kerugian ditanggung oleh Mudharib jika kerugian itu diakibatkan oleh kelalaian Mudharib dalam mengelola usahanya.
Berikut ini adalah ketentuan dari pembiayaan mudharabah :

1. Pembiayaan untuk suatu usaha yang produkif
2. Pemilik dana/ LKS membiayai 100% sedangkan pengusaha(nasabah) bertindak sebagai mudharib
3. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang
4. Modal diberikan oleh sahibul maal kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat : Harus diketahui jumlah dan jenisnya, dapat berbentuk uang / barang yang dinilai. Jika dalam bentuk asset, harus dinilai pada waktu akad, tidak berbentuk piutang & harus dibayarkan kepada mudharib

Apabila kita perhatikan sistem pembiayaan Mudharabah tersebut, dapat kita simpulkan bahwa pembiayaan Mudharabah lebih adil daripada kredit di Bank Konvensional. Mengapa? Karena pembiayaan Mudharabah sesuai dengan syariat Islam yang menjunjung tinggi keadilan dalam setiap transaksi.

Berikut ini adalah keunggulan pembiayaan Mudharabah dibandingkan dengan kredit Bank Konvensional :

1. Dalam pembiayaan Mudharabah penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi. Sedangkan dalam kredit Bank Konvensional penentuan suku bunga dibuat dengan berpedoman harus selalu untung. Hal ini tentu saja memaksa pihak Nasabah agar selalu untung dalam usahanya. Padahal, usaha tersebut belum tentu akan selalu untung karena Allah yang menetapkan nasib para hamba-Nya. Sistem bunga pada kredit Bank Konvensional telah menyalahi Sunnatullah.

2. Dalam kredit Bank Konvensional, besarnya bunga ditetapkan berdasarkan pokok pinjaman. Hal ini berarti, semakin besar pokok pinjaman, maka akan semakin besar pula bunga yang dikenakan. Jadi, walaupun usaha yang dijalani Nasabah memperoleh laba yang besar atau kecil, bunga yang dibayarkan jumlahnya tetap. Hal ini tentu saja menzhalimi Nasabah jika laba yang ia peroleh kecil. Sedangkan dalam pembiayaan Mudharabah, besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada laba yang diperoleh. Jadi, jika usaha yang dijalankan Nasabah memperoleh laba yang besar, maka laba yang dibagikan juga besar. Dan sebaliknya, jika usaha yang dijalani nasabah memperoleh laba yang kecil, maka bagian yang diperoleh pihak bank dan pihak nasabah akan sedikit.

3. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah usaha yang dijalani oleh pihak Nasabah untung atau rugi. Sedangkan pada pembiayaan Mudharabah, bagi hasil tergantung pada laba proyek. Bila usaha yang dijalani nasabah mengalami kerugian, maka kerugian akan ditanggung bersama.

Berdasarkan uraian di atas, jelas sekali bahwa pembiayaan Mudharabah merupakan solusi yang tepat bagi calon wirausahawan yang tidak memiliki modal dan ingin membuka suatu usaha. Dalam prinsipnya pembiayaan Mudharabah lebih adil dan lebih menenangkan karena sesuai dengan prinsip syariah. Untuk itu, mari kita tingkatkan perkembangan sektor UMKM melalui pembiayaan Mudharabah agar perekonomian negara kita semakin membaik kedepannya.