Home / Bisnis & Ekonomi / Pasar Modal Syariah Terus Alami Peningkatan

Pasar Modal Syariah Terus Alami Peningkatan

Ilustrasi (Istimewa)

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pasar modal syariah terus mengalami perkembangan yang baik. Dalam perkembangan jumlah saham syariah dalam Daftar Efek Syariah (DES) perkembangan saham dari periode pertama dan periode kedua dari tahun 2016 hingga tahun 2017 mengalami kenaikan 12,8% dan 9.7% ini menunjukkan hal yang bagus.

Investasi di pasar modal diklaim lebih menguntungkan dibanding produk lain. Dengan tingkat imbal hasil investasi di pasar saham selama sepuluh tahun terakhir sebesar 21,18%, lebih tinggi dibanding rata-rata suku bunga deposito perbankan yang hanya sebesar 7,47%.

Hal ini juga didukung dimana Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi satu-satunya institusi yang dalam dua tahun berturut-turut mendapatkan penghargaan dari Global Islamic Finance Award (GIFA) untuk kategori The Best Supporting Institution for Islamic Finance of the Year 2017. Hal ini seharusnya dapat menjadikan masyarakat untuk berbondong-bondong berinvestasi di pasar modal syariah terutama saham syariah , selain menguntungkan di dunia juga menguntungkan di akhirat.

Pasar modal syariah adalah pasar modal dimana instrumen dan mekanisme yang digunakan berdasarkan pada prinsip syariah, yang mana tidak boleh ada unsur mayshir, garam dan riba. Menurut fatwa DSN-MUI No. 40/DSN-MUI/X/2003 efek syariah yang dapat diperdagangkan adalah : Efek Syariah mencakup Saham Syariah, Obligasi Syariah, Reksa Dana Syariah, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) Syariah, dan surat berharga lainnya yang sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah.

Saham Syariah adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang mana perusahaan tersebut baik dalam proses produksi ataupun transaksi nya sesuai dengan syariah. Saham Syariah tidak mengenal riba (bunga), melainkan sistem bagi hasil dan risiko atau yang biasa disebut dengan Nisbah, dimana Nisbah tersebut disepakati diawal ketika akad. Dengan sistem bagi hasil apabila perusahaan yang didanai tersebut untung maka investor akan mendapat keuntungan begitu juga sebaliknya apabila mengalami kerugian investor juga ikut menanggungnya. Nilai keuntungan yang akan diterima bersifat fluktuatif sesuai dengan performa perusahaannya hal berbeda dengan saham konvensional yang menerapkan sistem bunga tetap sehingga memberikan keuntungan yang lebih stabil bagi investor.

Sebelum berinvestasi sebaiknya cari tau informasi mengenai ekonomi yang terjadi saat ini, jika rupiah bagus, ekonomi Indonesia bagus sehingga itu dapat menjadi referensi dalam memberikan investasi. Setelah itu pelajari resiko, lalu lihat dan pelajari rekam jejak perusahaan apakah manajemennya bagus dan apakah pernah terjadi fraud, baca dan pelajari laporan keuangan dari emiten yang ingin kita beli, perhatikan tren yang ada artinya perhatikan pergerakan harga saham dan harus sabar jangan bersikap gegabah. [Erviani]