Home / Oase / Pemuda Penggagas Spiritual

Pemuda Penggagas Spiritual

Pernahkah kita menghitung jumlah masjid ataupun mushalla yang ada di Indonesia? Banyak bahkan sangat banyak bukan?, karena mayoritas penduduk negaranya adalah umat Nabi Muhammad SAW. Rahmat yang Allah  SWT berikan sangatlah luas sehingga dengan mudah kita temui tempat peribadahan umat muslim sebanyak ini di negara Indonesia.

Permasalahan yang dapat kita ambil adalah para pemudanya, pada zaman dahulu Muhammad Al-Fatih mampu menguasai konstantiopel, Al fatih adalah seorang pemuda yang kala itu berusia 23 tahun, kekuatan dan kegigihannya memenangkan agama Allah, sehingga wilayah perdagangan terbesar dunia mampu dikuasai oleh seorang pemuda.

Yang sering terjadi di masyarakat kita saat ini adalah dimanakah pemudanya? Mengapa di setiap masjid-masjid selalu terisi dengan golongan tuanya? Apakah pemuda muslimnya terlena dengan kenikmatan yang telah menjebak mereka dalam kelalaian kepada-Nya?

Sungguh sangat mengenaskan bukan, ketika masjid-masjid hanya terisi di shaf pertama saja, itupun sering kita jumpai yang mengisinya adalah orang-orang tua, sedangkan pemudanya asik dengan kenikmatan yang Allah SWT berikan, sedangkan mereka lalai untuk beribadah kepadaNya.

Karena itu mendidik seorang pemuda sangatlah tidak mudah, diantara tugas seorang Nabi Muhammad SAW selama ini adalah seorang murabbi (pendidik). Usahanya mentarbiyah lebih b anyak daripada perkataanya, sehingga amal dengan perkataan lebih banyak amalnya.

Bicaranya dalam berbagai kesempatan sedikit saja, namun dari beberapa peristiwa, Nabi Muhammad selalau mengambil pelajaran dan kesimpulan. Nabi menjadikan malam dan siang hanya untuk tarbiyah (pendidikan), lalu bagaimana dengan kondisi masyarakat saat ini, pemudanya disibukkan dengan aplikasi penurun iman, berjoged di depan layar ponsel dan sebagainnya.

Dr. A’id Al Qarni menuliskan didalam bukunya, beberapa amalan agar, pemuda lebih konsisten dan serius lagi terkait urusan akhiratnya.

  1. Memperhatikan amalan fardhu

Fokuskan diri untuk menyempurnakan amalan-amalan wajib terdahulu, seperti: Shalat 5 waktu, Puasa ramadhan, Zakat, dll. Biasakan diri dengan sesuatu yang wajib terlebih dahulu, sehingga ketika kita melakukan amalan-amalan sunnah lainnya lebih ringan, karena amalan wajib kita telah terpenuhi.  

Karena tidak menuntut kemungkinan ketika kita melakukan amalan sunnah dengan meninggalknan sesuatu yang wajib, bisa jadi amalan yang kita lakukan sia-sia, karena sesuat yang wajib itu kita langgar. Islam itu mudah namun tak segalanya bisa dianggap mudah, sehingga kita bisa meninggalkan dan menjadikan islam seperti hal yang sepele. Naudzubillah.

  1. Menghidupkan semangat keteladanan

Menghidupan semangat keteladanan didalam diri seorang pemuda saat ini sangatlah tidak mudah, karena di zaman milenial ini banyak berkurang dari umat islam pada saat ini adalah contoh teladan. Pemudanya sibuk dengan kenikmatan yang menjebak mereka dalam kelalaian ketaatan kepada rabbNya.

Contoh teladan yang bisa dirasakan para pemuda, karena hanya sekedar mengingatkan namun sedikit sekali yang mengamalkannya. Dibalik podium atau mimbar-mimbar keagamaan, mengucapkan memang sangatlah mudah, namun sedikit sekali yang mampu beristiqamah dan menjalankan sesuai syariatNya dengan baik dan benar.

Salah seorang Ulama Salaf mengatakan, bahwa dulu ketika dirinya sedang malas beribadah, maka satu hal yang segera dikerjakannya adalah memandang sahabatnya Muhammad bin Al Wasi’ Assa’adi. Para ulama juga memaparkan bahwa memandang wajahnya saja, mampu mengingatkan dirinya untuk mengingat allah.

Sungguh sangat mulia sekali Muhammad bin Al Wasi’, tidakkah hidupnya dipenuhi dengan keibadahan yang khusyuk serta keikhlasan dalam berdakwah. Mampu membangkitkan semangat spiritual seorang ulama salaf.

  1. Menamkan makna ukhuwah

Diantara cara mendidik seorang pemuda yang mampu menggagas spiritual adalah dengan membangun rasa ukhuwah dalam diri seorang pemuda. Ukhuwah islamiyah yang sering kali diremehkan oleh banyak orang, saling membantu dan mengingatkan kepada saudaranya.

Di depan mimbar-mimbarnya ia mampu menyerukan persaudaraan dalam islam, di balik layar ponselnya ia juga mampu merangkai kata, untuk menyerukan persaudaraan dalam islam, namun setelah turun dari mimbarnya, ia bagai tongkat dan cemeti terhadap orang lain.

Dimanakah arti persaudaraan ummat islam, apabila salah satu orangnya saja masih merobek robek kehormatan bahkan sampai terjadi pertumpahan darah akibat sesuatu hal yang sangat sepele, bukankah sangat pedih azab seorang hamba yang tak mampu menahan emosinya terhadapa saudara seimannya.

Mendefinisikan makna persaudaraan sangat tidak mudah, jika saja hanya sekedar bertegur sapa melalui ponsel masing-masing lalu keika ia berjalan di jalanan ramai, ia berdiam tanpa bertegur sapa dengan saudaranya sendiri. Ketika salah seorang tidak sejalan dengan pemikirannya, sudah seperti tongkat dan cemeti, bagaimana cara memperlakukannyaa pun juga masih berbeda, apabila kita masih membedakan warna kulit maupun pemikiran seseorang, bagaimana jika ingin membangun ukhuwah dan menciptakan ukhuwah. Hendaknya memulainya dari hal yang lebih kecil dulu, memperbaiki hubungan kita tetrhadap manusia dan Allah.

  1. Menjauhkan perbuatan mencela

Perasaan ingin dipandang terlihat lebih, sedikit saja muncul dibilk hati seorang hamba, akankah ia dikatak orang yang sombong? Sebenarnya apasih hakikat sombong? Ia adalah merendahkan saudaranya, sehingga ia ingin dipandang lebih dan lebih.

Sesungguhnya orang yang sekali saja ia mencela, maka setan selalu menyusupinya dan membisikanya untuk melakukan perbuatan itu yang kedua kalinya, hingga ketiga dan ke berapa kalinya, namun kita masih belum sadar, bahwa setan sedang mengajak kita menuju neraka. Naudzubillah, jangan jadikan perbuatan tercela itu berkesinambungan, lekas mohon ampunah kepada Rabbmu. 

  1. Menyikapi perbedaan

Adab ketika saling berbeda dalam sebuah hal, maka yang pertama harus dijelaskan adalah menjelaskan dulu masalah menurut masing-masing pihak, sehingga apabila telah jelas, maka tinggal mengambil kesimpulan tanpa mengajak rasa ego untuk saling berdiskusi.

Ini banyak terjadi pada masa-masa khilafiyah juga sampai saat ini, sering kali kita temui masyarakat saat ini hanya sekedar memasalahkan seseorang menjadi jamaah siapa dalam masjid, ia sudah tidak mau mendengarkan dakwah maupun ceramahnya jika tidak dari ustadz yang sama.

Berdiskusi memang sangat penting, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang acap kali menjadi momk bagi setiap organisasi, kelompok maupuj dalan sebuah majlis, tapi jangan samai melalaikan kita dalam beribadah kepada Allah

Dan ketika kita beribadah kepada allah maka jangan melupakan hubungan kita terhadap manusia atau saudara kita. (Hilda Islami Ahza) 

Referensi buku: Selagi masih muda

Penulis: DR. A’idh Al-Qarni (penulis buku best seller “La Tahzan”)