Home / Bisnis & Ekonomi / Peran Auditor di Lembaga Keuangan Syariah

Peran Auditor di Lembaga Keuangan Syariah

 

 

Indonesia merupakan Negara bermayoritaskan penduduk muslim, yang selalu ingin memegang teguh aqidah dalam melakukan kegiatan bermuamalat. Saat ini pemerintah mengupayakan untuk membangun instansi – instansi yang mengatas namakan syariah, seperti Bank Syariah, Pasar Modal Syariah, dan Lembaga Keuangan Syariah lainnya.

Auditing merupakan proses pengumpulan dan penilaian bukti bukti yang dilakukan oleh pihak berkompeten. Tujuan yang didapatkan dalam proses auditing adalah membuat dan mengevaluasi keptusan tentang alokasi sumber daya yang langka dalam ekonomi kapitalis. Sedangkan audit syariah adalah pemeriksaan sejauh mana lembaga keuangan syariah memenuhi aturan syariah dalam semua aktivitasnya.

Dalam standar AAOIFI No.3 menguraikan bahwa tujuan audit syariah adalah untuk memastikan bahwa pengelolaan suatu IFI melaksanakan tanggung jawab mereka dalam kaitannya dengan pelaksanaan aturan syariah dan prinsip – prinsip, sebagaimana ditentukan oleh IFI Dewan Pengawas Syariah. Tugas dan tanggung jawab dari auditor pada Lembaga Keuangan Syariah sendiri jauh lebih luas dari yang ditemukan di bank konvensional dalam hal pemeriksaan berbagai kontrak, struktur produk, pelaporan transaksi, penyusunan laporan keuangan, laporan, surat edaran pemasaran, dan dokumen hukum lainnya, yang berkaitan dengan operasi lembaga keuangan syariah.

Audit dalam maqosid syariah bertujuan untuk mensejahterakan seluruh umat manusia. Menjaga iman mereka (Hifz-al-din), diri mereka sendiri (Hifz-al-nafs), akal mereka (Hifz-al-aql), keturunan mereka (Hifz-al-nasl) dan melindungi kekayaan mereka (Hifz-al-mal). Kelima hal tersebut untuk menjamin kehidupan umat manusia sekarang dan di kehidupan nanti. Adapun peran dan tanggung jawab auditor di IFI. Auditor harus menyelidiki sejauh mana IFI telah mempertahankan akad mereka. (menyimpan kontrak – komitmen kontraktual) di originasi dan pinjaman bank dalam akad Mudarabah, Musharakah dan leasing kontrak dibawah akad Ijarah.

Peran auditor lebih menuntut untuk memantau dan menjamin dana tersebut dikhususkan untuk kegiatan konvensional tidak bercampur dengan transaksi syariah. Auditor harus melihat berbagai pelaporan kontraktual komitmen dari IFI terhadap pemasok, pelanggan, debitur, kreditur dan pemerintah. Misalnya, dalam penyaringan produk. Auditor harus memperhatikan tanda-tanda dalam penimbunan dengan maksud menyebabkan kelangkaan atau menyembunyikan harga.

Auditor juga harus menyelidiki uji tuntas proses untuk rekturisasi pinjaman bank, pemulihan, mekanisme dan solusi lainnya tanpa bias. Salah satu yang paling penting, tanggung jawab auditor di IFI adalah melaporkan bahwa zakat telah dihitung dengan benar dan mengolah dana tersebut secara benar. Zakat adalah kewajiban bagi mereka yang memiliki kekayaan melebihi batas pembebasan (nisab). Para auditor IFI membuat dan menyatakan pendapat atas laporan keuangan setelah selesainya tinjauan syariah.

Tidak hanya itu auditor harus melakukan audit laporan keuangan tetapi juga audit kepatuhan terhadap struktur organisasi, orang dan proses pemeriksaan audit atas kecukupan. Proses tata kelola syariah, memberikan rekomendasi kepada komite audit dan komite pengawas syariah. Sedangkan auditor konvensional biasanya melakukan hal yang sama dengan audit atas dasar sampel, auditor syariah harus memastikan bahwa bank memiliki benar-benar mematuhi ajaran Islam dalam semua transaksi sebelum mengeluarkan laporannya. Dengan kata lain, auditor tidak dapat dikompensasi dengan cara yang sama dengan IFI dalam melakukan kegiatan mereka. Tetapi juga efektivitas dari kegiatan-kegiatan ini menyumbangkan beberapa langkah dari syariah untuk menyebarkan kebaikan islami di semua bidang. (Ratna Dwi Anggraeni)