Home / Bisnis & Ekonomi / Pertumbuhan Bank Syariah dan Ukuran Kinerja Berdasarkan Maqasid al-Shari’ah

Pertumbuhan Bank Syariah dan Ukuran Kinerja Berdasarkan Maqasid al-Shari’ah

Seiring dengan perkembangan zaman, Perbankan syariah telah mencapai pertumbuhan luar biasa yang telah melampaui sistem pertumbuhan perbankan konvensional. Akan tetapi berdasarkan penelitian kinerja Bank Syariah tampaknya tertinggal di belakang oleh Bank Konvensional. Percobaan Bank Syariah pertama didirikan pada tahun 1963, yaitu bank Mit Ghamr di Mesir. Ini diikuti oleh pendirian Dubai Islamic Bank pada 1975. Sejak saat itu, ekspansi dan kinerja perbankan syariah luar biasa pesat meski beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif yang didominasi oleh perbankan konvensional.

Sebuah studi oleh Dana Moneter Internasional (2005) menunjukkan bahwa jumlah lembaga  Islam meningkat dari 75 pada tahun 1975 menjadi lebih dari 300 pada tahun 2005, tersebar lebih banyak lagi di 75 negara secara global. Terdapat fakta yang cukup mengejutkan bahwa, total aset yang saat ini dikelola oleh lembaga keuangan Islam diperkirakan berada di antara USD400 miliar hingga USD500 miliar dan, pasar potensial bagi keuangan Islam mendekati $ 4 triliun (Al-Amine, 2008).

Malaysia merupakan negara degan penduduk dominan muslim yang sukses dalam bidang perbankan syariah. Terbukti bahwa, industri tersebut diharapkan dapat menangkap 20% pasar domestik pada tahun 2010, Situs web Malaysia (BNM). Malaysia juga negara yang paling berkembang di dunia Muslim dan dianggap sebagai negara pertama yang menerbitkan obligasi Sukuk global pada tahun 2002, senilai 600 juta USD. Walaupun kabar baik mengenai perbankan syariah di era sekarang sangat menggembirakan, akan tetapi terdapat kelemahan dari sistem tersebut. Seperti yang telah kita ketahui dalam perbankan syariah dan bank konvensional terdapat perbedaan yang signifikan seperti dalam akad dan pengelolaan dana yang didapat. Namun, masih terdapatnya aspek aspek yang tidak dapat di hindari dari sistem bank konvensional. Oleh karena itu, sebagian orang masih berpendapat bahwa perbankan syariah masih dianggap meng-ekor kepada bank konvensional.

Penelitian berupa performa pengukuran berdasarkan kerangka Maqashid Syariah memiliki beberapa tujuan penting. Tujuan pertama – Bank Syariah harus merancang program pendidikan dan pelatihan yang  mengembangkan pengetahuan dan tenaga kerja terampil yang dijiwai dengan nilai-nilai moral yang tepat. Mereka juga harus menyebarluaskan informasi yang akan memberi tahu kepada para pemangku kepentingan mereka mengenai produk mereka. Dalam tujuan kedua – Keadilan, bank-bank Islam harus memastikan transaksi yang adil dalam semua bisnisnya kegiatan, yang termasuk produknya, penetapan harga dan syarat dan ketentuan kontrak. Juga memastikan bahwa semua usaha bisnisnya bebas dari elemen negatif yang dapat menciptakan ketidakadilan, seperti riba (termasuk bunga), penipuan, korupsi, dll.

Secara tidak langsung, bank harus secara bijak menggunakannya keuntungannya dan mengarahkan kegiatannya ke area vital yang dapat membantu mengurangi pendapatan dan ketidaksetaraan kekayaan dan mendorong sirkulasi kekayaan dan ekuitas distributif. Tujuan ketiga, Maslahah atau kepentingan publik, bank syariah harus memberi prioritas untuk kegiatan bisnis yang menghasilkan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat umum. Ini termasuk kegiatan di bidang yang terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat seperti investasi dalam vital sektor, pembiayaan proyek perumahan, dll.

Maka, selama bank-bank Islam beroperasi dengan menggunakan sistem peraturan tanpa menggunakan kerangka Maqashid Syariah, kinerja bank syariah akan tertinggal. Adapun solusi dari hal tersebut, dengan membuat kebijakan, regulator, sarjana dan bankir untuk mendorong perubahan dari konvensional berdasarkan aturan dan peraturan. Sebaliknya, bank-bank Islam harus bergerak menuju Maqasid al-Shariah,  dimana sistem dan peraturan dalam pengelolaannya berdasarkan Shariah. (Ratna Dwi A/STEI SEBI)