Breaking News
Home / Artikel / Solusi Pemberdayaan Umat Melalui Zakat (ZIS)

Solusi Pemberdayaan Umat Melalui Zakat (ZIS)

Zakat (ZIS) merupakan salah satu tuntunan ajaran Islam yang menyangkut kehidupan bermasyarakat dalam rangka ibadah ijtima’iyah (ibadah sosial). Zakat dan wakaf (Ziswa) adalah salah satu rukun Islam yang memiliki dua dimensi, yaitu dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Zakat dan wakaf dikaitkan dengan dimensi ketuhanan karena zakat dan wakaf merupakan simbol dari ketaatan dan wujud dari rasa syukur hamba kepada Tuhannya. Selain memiliki dimensi ketuhanan, zakat wakaf juga sangat terkait dengan kemanusiaan. Banyak sekali manfaat dari zakat wakaf bagi umat manusia, antara lain adalah bahwa zakat wakaf dapat dijadikan sarana untuk memupuk rasa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama umat manusia, sebagai sumber dana untuk memenuhi sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh umat manusia, sehingga zakat dan wakaf merupakan mesin penggerak dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengikis kemiskinan.  (Sa‟adah, 2017)

Zakat dalam Alquran dan hadis terkadang disebut dengan sedekah, seperti firman Allah: 

 خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

 “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “(Q.S. At Taubah, 103). Zakat yang merupakan salah satu rukun Islam yang lima itu diartikan sebagai “tumbuh dan bertambah”. juga bisa berarti berkah, bersih, suci, subur dan berkembang maju. Dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita selaku umat muslim telah diwajibkan oleh Allah Subhaa nahu Waata‟ala untuk mengeluarkan zakat, seperti firman Allah Swt : 

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat“. (Surat An Nur 24 : 56).

Zakat diyakini sebagai ibadah yang berfungsi menyeimbangkan relasi sosial. Melalui zakat wakaf (ziswa), jarak antara orang berada dan orang yang kurang beruntung dapat didekatkan. Orang berada punya kewajiban untuk membantu dan memperhatikan orang-orang susah yang hidup di sekitarnya. Selain itu, ziswa juga berfungsi agar sirkulasi harta kekayaan tidak hanya berputar di kalangan sekelompok orang-orang berada saja. Dengan berziswa, orang-orang berada turut secara aktif memberdayakan ekonomi masyarakat yang kurang beruntung. Tujuan itu dapat direalisasikan jika zakat dikelola dengan manajemen yang profesional, akuntabel, dan modern. Zakat telah dikelola oleh lembagalembaga pengelola dana zakat. Dalam sistem ekonomi Islam  zakat dan wakaf (ziswa) belum banyak di eksplorasi  secara  maksimal, padahal zakat dan wakaf merupakan instrumen yang sangat potensial untuk pemberdayaan  ekonomi umat. Untuk itulah zakat dan wakaf sangat penting untuk dikelola dan dikembangkan secara maksimal.

Amil merupakan pengelola zakat, termasuk badan-badan zakat yang ada itu tugasnya bukan hanya menerima dan memproses saja, tetapi berkewajiban juga dalam pendistribusiannya, termasuk bagaimana dalam membina dan memberikan pembinaan kepada fakir miskin yang menerima zakat itu. Amil Zakat diharapkan bisa ikut serta memberdayakan zakat secara benar dan tepat. Tentu diharapkan zakat yang diterima itu tidak hanya untuk dikonsumsi, tetapi bagaimana bisa diberdayakan untuk mengangkat perekonomian mereka, misalnya dipakai untuk modal usaha, atau mereka diberikan alat kerja sehingga mereka bisa terangkat kehidupannya menjadi lebih baik. Pada zaman khalifah, zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil dan didistribusikan kepada kelompok tertentu dari masyarakat. Kelompok itu adalah orang miskin, janda, budak yang ingin membeli kebebasan mereka, orang yang terlilit hutang dan tidak mampu membayar. Syari’ah mengatur dengan lebih detail mengenai zakat dan bagaimana zakat itu harus dibayarkan. Kejatuhan para khalifah dan negara-negara Islam menyebabkan zakat tidak dapat diselenggarakan berdasarkan syariah. Ada suatu kelemahan yang harus kita sadari bahwa ada lembaga zakat sudah sangat bagus dari sisi pengumpulan zakat namun terlihat juga dari sisi pendayagunaan atau penyaluran dana zakat yang tidak berhasil.

Dari beberapa penyebab timbulnya kemiskinan, ada beberapa diantaranya dapat diatasi dengan pemberdayaan zakat. Karena masalah kemiskinan merupakan permasalahan kolektif yaitu individu, masyarakat dan negara maka melalui pemberdayaan zakat juga harus dilaksanakan secara kolektif agar pelaksanaan zakat dapat secara efektif dan efisien, namun peran negara sangat dominan karena negara merupakan lembaga pembuat kebijakan dan sebagai kekuatan fasilitator.  (Chaniago, 2015)

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa zakat harus dikelola Negara, diantaranya:

1. Karena wajib. Disini negara harus dapat memberikan sanksi kepada para  muzaki yang tidak mau membayar zakat. Alasan ini karena kesadaran dari umat untuk melaksanakan pembayaran zakat sangat minim dibandingkan dengan jumlah wajib zakat.

2. Karena menyangkut pihak lain terutama fakir miskin. Kemiskinan harus didefinisikan secara jelas agar masyarakat tidak menentukan definisi kemiskinan secara subjektif yang dipandang sebagai hubungan pribadi atau kedekatan seseorang atau lembaga.

3. Karena zakat terkait dengan pajak dimana orang yang membayar zakat dan pajak adalah orang kaya. Tujuan kebijakan zakat harus jelas, agar kehidupan fakir miskin bukan tergantung pada suasana hati orang-orang kaya, karena kalau tergantung suasana hati orang kaya si miskin harus pandai mendekatkan diri kepada si kaya, kalau tidak tentu si miskin tidak akan mendapatkan bagian harta zakat si kaya. 

Oleh karena itu dari penyebab-penyebab tersebut diatas akan dapat diatasi melalui pemberdayaan zakat, karena zakat dalam pengelolaan bukan hanya pemberian berupa materi yang akan habis dikosumsi begitu saja namun harus juga dapat dikembangkan sebagai modal yang produktif  bagi penerimanya dengan harapan dia juga harus dapat menjadi muzaki dikemudian hari. Hal ini akan dapat terlaksana apabila masing-masing pihak yang terkait bisa saling bekerja sama dan bersinerji. Masing-masing pihak tersebut adalah lembaga pemerintah, masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat, badan pengelola zakat, muzaki dan pihak penerima zakat. Menghilangkan kemiskinan secara tuntas tentu sangatlah tidak mungkin karena itu merupakan takdir dari Allah dan kemiskinan merupakan suatu keadaan yang relatif terjadi, namun dapat diberantas atau ditanggulangi dengan membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat, namun hal ini sangatlah tidak efektif kalau dikaitkan dengan tujuan dari zakat. Zakat lebih mengedepankan faktor produktif daripada faktor konsumtif. Bantuan secara langsung kepada orang miskin hanya dilakukan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang pasti mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.

Kehadiran Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah adalah untuk menjawab berbagai tantangan aktual yang dihadapi umat Islam dengan memanfaatkan kekuatan yang ada pada umat Islam itu sendiri. Terutama lembaga pengelola zakat harus berubah dari pengelolahan zakat secara tradisional kepada cara yang lebih professional dengan perumusan strategi-strategi. Salah satu strategi yang perlu diciptakan adalah menciptakan persepsi orang (terutama muzaki dan mustahik) tentang zakat dan pengelolahannya. Mustahik yang diberikan zakat harus mempunyai tanggung jawab dan bukan hanya merupakan pemberian semata sebagai balas kasihan atau simpati, tetapi lebih dari itu adalah agar mereka dapat menggunakan zakat tersebut untuk mengembangkan dirinya lebih mandiri yang akhirnya terlepas dari rantai kemiskinan. 

Secara umum kita dapat membangun strategi yang digunakan dalam pemberdayaan zakat diantaranya: 

a. Peningkatan perekonomian secara langsung dengan memberikan modal usaha. Strategi ini digunakan untuk para mustahik yang produktif secara kemampuan berusaha seperti dagang, jasa (tukang sepatu, penerima upah bajak sawah, dll) yang membutuhkan modal.

b. Peningkatan perekonomian secara pemberian skill dan keterampilan melalui workshop atau training kepada mustahik yang masih produktif.

c. Peningkatan perekonomian melaluai pemberian modal usaha untuk mustahik yang ingin meningkatkan kemandirian dalam perekonomian.

d. Peningkatan perekonomian melalui membuka lapangan kerja bagi mustahik yang tidak mempunyai kemampuan mengurus wirausaha sendiri.

Berdasarkan penciptaan strategi diatas diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ummat, dan senantiasa meningkatkan usaha para mustahik dalam menggunakan dana zakat itu agar tepat guna dan berdaya guna.(Muhammad Malik Sayyid Ahmad/ STEI SEBI)

Refrensi

Chaniago, S. A. (2015). PEMBERDAYAAN ZAKAT DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN . Jurnal Hukum Islam (JHI), 50 – 52.

Sa‟adah, S. L. (2017). ZAKAT WAKAF (ZISWA): SOLUSI DALAM MEWUJUDKAN PEMBERDAYAAN UMAT . Iqtishoduna, 262 – 263.