Home / Bisnis & Ekonomi / TANTANGAN DALAM MEREKRUT AUDITOR INTERNAL KHUSUS DI MALAYSIA

TANTANGAN DALAM MEREKRUT AUDITOR INTERNAL KHUSUS DI MALAYSIA

 

Di Malaysia, audit khusus atau yang biasa dikenal dengan auditor syariah bermaksud untuk melindungi para pemangku kepentingan dengan melakukan operasi yang sesuai syariah dan menawarkan layanan yang sesuai syariah. Fungsi tersebut harus dilakukan oleh auditor internal kepada LKS yang dikenal sebagai auditor syariah. Selain auditor internal konvensional, auditor syariah menyediakan layanan jaminan untuk memastikan bahwa IFI dapat mendukung praktik syariah dan menanamkan kepercayaan di antara para pemangku kepentingan.

Pemerintah Malaysia telah memperkenalkan Shariah Governance Framework (SGF) melalui Central Bank Malaysia (CBM) pada tahun 2011 untuk memperkuat struktur tata kelola, proses dan pengaturan syariah (Bank Negara Malaysia, 2010). Fungsi tata kelola syariah sebelum pelaksanaan SGF diwariskan kepada Syariah Committee (SC) dari masing-masing IFI untuk mengawasi setiap masalah kepatuhan syariah melalui peninjauan syariah dan fungsi audit syariah. Pengenalan SGF telah membawa dimensi baru untuk fungsi audit syariah di mana audit syariah dilakukan sebagai garis pertahanan ketiga dalam mengurangi risiko ketidakpatuhan syariah dari IFI sesuai dengan syariah sebagaimana diatur dalam Bagian 28 dari Undang-Undang Islamic Financial Services Act ( IFSA) 2013.

Faktor utama kontribusi terhadap kompetensi auditor adalah pendidikan formal di institusi pendidikan tinggi sebagai persyaratan untuk masuk profesi akuntansi, pelatihan, pengalaman audit yang luas dan ketrampilan prosedural (Bedard & Chi 1993) serta pengembangan profesional berkelanjutan dibidang audit (Bedard 1989; Boynton & Walter 2010; Flint 1988; Mills 1993).

Bukti empiris di Malaysia menunjukkan bahwa mayoritas auditor syariah di IFI adalah kurangnya atau tidak memiliki kualifikasi profesional atau akademik baik dalam perbankan syariah atau syariah (Abdul Rahim Abdul Rahman 2008; Nawal Kasim, Shahul Hameed Mohamad Ibrahim & Maliah Sulaiman , 2009). Saat ini SGF (dalam para 7.8) menyatakan bahwa “Auditor internal yang telah mengakuisisi syariah pengetahuan dan pelatihan terkait”  dalam hal kebutuhan pengetahuan tidak disebutkan secara khusus jenis-jenis pengetahuan shariah yang diperlukan untuk melakukan tugas sebagai auditor syariah. Karena tidak banyak studi memberikan wawasan tentang praktik rekrutmen dan tantangan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga ini untuk merekrut atau melatih kandidat untuk mengisi posisi auditor syariah. Penelitian ini adalah upaya terpadu untuk memahami fenomena tersebut.

IFI di Malaysia masih kekurangan manajemen bakat dalam memilih auditor dengan pengetahuan dalam audit dan syariah. Di sisi lain, praktisi di lapangan juga menekankan bahwa itu adalah tugas yang menantang untuk merekrut lulusan yang memiliki pengetahuan di kedua area. Sebagai langkah segera untuk melawan kurangnya profesional yang menguasai pengetahuan audit dan syariah, manajemen IFI telah mengekspos auditor syariah dengan masing-masing IFI untuk program pelatihan bersertifikat syariah yang dilakukan oleh organisasi pelatihan yang mapan seperti IBFIM, pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) dari badan-badan profesional seperti Malaysian Institute of Accountants (MIA) selain pelatihan internal yang disediakan oleh auditor syariah senior di masing-masing IFI. (Reka Utami/STEI SEBI)