Home / Bisnis & Ekonomi / Tugas dan Peran Auditor Dalam Lembaga Keuangan Islam

Tugas dan Peran Auditor Dalam Lembaga Keuangan Islam

 

 

Keuangan syariah memiliki bagian yang mendukung konservatisme dengan melarang berbagai instrumen dan transaksi yang termasuk dalam riba, maysir, dan gharar. Para pendukung keuangan islam meyakinkan bahwa Lembaga Keuangan Syariah memiliki keuangan yang kokoh dan stabilitas karena bank syariah mengikuti  aturan islam. Lembaga Keuangan Syariah memiliki tujuan serupa dengan konvensional untuk pelaporan keuangan namun berdasarkan aturan Syariah,  mereka yang bertransaksi dengan entitas bisnis yang sesuai syariat (seperti Lembaga Kuangan Syariah), atau seseorang yang menjadi  pemegang saham dalam entitas tersebut (seperti manajer, auditor, pemegang akun, kreditor), yang berhubungan dengan penyesuaian entitas bisnis dengan aturan syariah dalam hal keuangan dan lainnya.

Tujuan audit konvensional hanya sebatas untuk mengaudit laporan keuangan entitas apakah sudah sesuai dengan standar yang berlaku, sehingga auditor konvensional hanya bertanggung jawab terhadap pemberian opini laporan keuangan entitas saja. Berbeda dengan audit syariah, standar AAOIFI No 3 menguraikan bahwa tujuan audit syariah ialah untuk memastikan bahwa manajemen dalam LKS telah melaksanakan tanggungjawab mereka dalam pelaksanaan prinsip-prinsip syariah, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) di LKS. Sehingga audit syariah merupakan pemeriksaan atas kesesuaian sebuah LKS dalam segala aktivitasnya yang meliputi perjanjian, kontrak, operasional, produk, transaksi, memorandum dan anggaran dasar, laporan keuangan, surat edaran serta dokumen hukum lainnya yang berkaitan dengan operasi LKS.

Audit syariah melakukan pemeriksaan sejauh mana Lembaga Keuangan Syariah mematuhi aturan syariah dalam semua aktivitasnya. Menurut Rehman (2012), pemeriksaan ini mencakup perjanjian, kontrak, kebijakan, produk, transaksi, memorandum dan anggaran dasar, laporan keuangan, pelaporan, surat edaran dan dokumen hukum lainnya yang berkaitan dengan operasi Lembaga Keuangan Syariah.

Peran dan tanggung jawab auditor di lembaga keuangan syariah diantaranya memeriksa akad-akad yang digunakan dalam berjalannya organisasi sesuai apakah telah sesuai dengan prinsip syariah atau tidak. Peran auditor syariah juga mengawasi terkait etika bisnis dalam organisasi, seperti apakah dalam proses berjalannya organisasi ada orang-orang yang terdzolimi. Auditor juga harus memeriksa secara langsung prosedur atau proses pembentukan pembiayaan yang dilakukan oleh organisasi. Sebagai contoh, auditor harus mengamati tanda-tanda adakah ihtikar (penimbunan), bakhs (politik dumping) dan israf (pemborsan yang berlebih) dalam pembiayaan syariah.

Tantangan Audit Syariah Saat Ini

Menurut Iqbal dan Molyneux (2005) pertumbuhan yang sangat pesat dalam industri keuangan syariah belum diiringi dengan kecukupan para ahli yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ini. Keahlian terhadap syariah masih tergolong langka di beberapa Negara. Untuk mengatasi kekurangan jumlah auditor profesional yang ahli di lembaga keuangan syariah, AAOIFI telah membuat pelatihan yang mengarah pada serifikasi Penasihat Syariah dan Auditor (CSAA) dan kualifikasi bersertifikat Akuntan Islam Profesional (CIPA).

Hal ini merupakan sebuah inisiatif yang positif, namun tidak aa persyaratan khusus yang diperlukan untuk mendaftar pada pelatihan ini. Selain itu, kualifikasi sertifikasi tidak mencakup standar AAOIFI seara keseluruhan. Hal ini menjadi tidak mengherankan jika sumber daya Departemen Syariah selalu berada di bawah, karna tidak standar baku dalam kualifikasi auditor syariah. Tantangan lainnya menurut IFSB ialah tidak adanya kolaborasi dari pekerjaan auditor internal dengan dewan pengawas syariah, sehingga review shariah yang dihasilkan kurang memuaskan dalam konteks sebenarnya. (Siti Annisa/STEI SEBI Depok)