Breaking News
Home / Oase / We love you Mom

We love you Mom

Tulisan ini, penulis sadar dengan beberapa perubahan seperlunya dari kisah indah dalam buku “Setengah isi, Setengah kosong” berjudul; Telinga Sang Ibu, Karya ‘Mampuang Parlindungan, terbitan MQS Publishing, Bandung, cet. Ke VIII, 2006, hal 51’. Dalam buku tersebut dikisahkan, seorang ibu yang baru melahirkan sangat terkejut ketika melihat bayi yang baru dilahirkannya tidak memiliki daun telinga. Untunglah bayi itu masih memiliki fungsi pendengaran yang sempurna. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orangtua bayi tersebut selain menerima takdir bahwa anak mereka tidak memiliki daun telinga.

Hingga suatu saat si anak tersebut  bertanya pada ibunya: “Ibu kenapa ibu melahirkan saya dengan telinga seperti ini? “Si ibupun menjawab : “Tidak Nak….. bukan……. Ibu yang membuat kamu terlahir seperti ini.  Sudah dari sananya telinga kamu seperti ini.” Betapa pedih hati sang ibu dengan prasangka anaknya yang mengira  bahwa dialah penyebab cobaan yang berat ini. Kesedihan ibu tersebut semakin menjadi saat  sianak tidak mau keluar rumah dan tidak mau bersekolah. Si ibupun dengan sabar menemani anaknya dirumah sambil menjadi guru bagi anaknya tersebut. Si ibu selalu memberikan motivasi kepada anaknya hingga tumbuh kuat dan tabah.

Hari berganti hari, waktu terus bergulir, si anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang mampu bergaul dengan teman-teman sebayanya. Pelajaran disekolahpun tidak menjadi masalah untuk diikutinya. Semua berjalan normal, hingga suatu hari saat si anak pulang sekolah dalam keadaan menangis. Si anak merasa sangat sedih saat teman-temannya mengejeknya dengan mengatakan dia adalah alien (manusia planet), seperti visualisasi alien dalam film-film animasi yang sering kita saksikan. Sindiran itu tentu sangat menyakitkan hatinya. Dan hanya kepada ibunyalah anak itu mengadu. Sang ibu dengan ketabahan yang luar biasa merengkuh kepala anaknya dalam pelukannya dengan terus memotivasi anaknya untuk terus mengembangkan potensinya dan meraih prestasi yang gemilang.

Semua berjalan normal. Hingga suatu kali, seorang dokter yang dikenal oleh keluarga itu menginfokan bahwa sianak yang sudah tumbuh dewasa itu dapat menerima cangkok daun telinga, dan cangkokan ini sudah ada disimpan beberapa waktu lamanya  dari seorang donor. Mendengar berita ini gembiralah hati si anak, meskipun menyisakan Tanya siapakah yang telah mendonorkan telinga untuk dirinya. Operasi cangkokpun berjalan lancar, dan suatu perubahan penampilan dalam diri si anak inipun terjadi. Rasa percaya dirinyapun semakin meningkat seiring dengan prestasi yang ia raih. Hal ini sekaligus mempercepat studi dan pencarian kerjanya, hingga akhirnya dapat menduduki posisi jabatan yang strategis sebagai seorang diplomat dan hidup mapan. Si ibupun begitu menyayangi anaknya demikian pula sebaliknya. Beberapa tahun berikutnya pemuda tersebut membangun sebuah rumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak. Namun rasa penasaran tetap timbul dalam dirinya tentang siapakah gerangan orang yang telah mendonorkan daun telinga untuknya. Saat hal itu ditanyakan kepada ayahnya sang ayah menjawab “Suatu saat kau akan tahu, Nak!…”

Waktupun berjalan. Hingga suatu hari ada berita duka yang sampai kepada keluarga tersebut yang mengabarkan bahwa ibunda tercinta telah meninggal dunia. Betapa kesedihan menyelimuti si anak tunggal tersebut. Teringat lagi akan pengorbanan ibu yang selama ini menguatkannya dalam sindiran dan cemoohan teman-temannya. Ibunyalah yang menguatkannya. Ibunyalah yang memeluk dan menghiburnya. Namun semua itu kini tinggal kenangan. Saat akan memberikan ciuman terakhir pada jasad ibunya, dengan didampingi ayahnya. Dalam debar dia singkapkan kain kafan ibunya. Si anak sempat terkesima ketika menyibakkan rambut ibunya. Dan dia dapatkan jenazah ibunya tidak mempunyai daun telinga. Selamat Hari Ibu 22 desember 2012.

Hingga suatu hari si anak dipanggil dan diajak pergi ke seorang dokter bedah. Setelah itu si anak tidak tau apa-apa sampai saat ia sadar sudah berbaring di sebuah rumah sakit. Dirasakannya kedua telinganya agak perih. Dengan setia si ibu menunggui dan menceritakan bahwa ada seorang pendonor yang telah merelakan daun telinganya dicangkokan pada anaknya. Si anak gembira sekali dan berjanji suatu saat nanti akan dating kepada keluarga donor tersebut dan mengucapkan terima kasih karena telah mendonorkan daun telinganya.

Waktupun berjalan. Hingga anak tersebut menjadi seorang pengusaha sukses dengan kehidupan yang mapan. Si ibupun begitu menyayangi anaknya demikian pula sebaliknya. Hingga suatu hari ada berita duka yang menimpa pengusaha tersebut yang mengabarkan kematian ibunya.  Betapa kesedihan menyelimuti si anak tunggal tersebut. Teringat lagi akan pengorbanan ibu yang selama ini menguatkannya dalam sindiran dan cemoohan teman-temannya. Ibunyalah yang menguatkannya. Ibunyalah yang memeluk dan menghiburnya. Namun semua itu kini tinggal kenangan. Saat akan memberikan ciuman terakhir pada jasad ibunya, dengan didampingi ayahnya. Dalam debar dia singkapkan kain kafan ibunya. Si anak sempat terkesima ketika menyibakkan rambut ibunya. Dan dia dapatkan jenazah ibunya tidak mempunyai daun telinga. Selamat Hari Ibu 22 desember 2012. ( Sulistiawati/STEI SEBI)